Organisatoris? Siapa takut !

Postingan kali ini saya tujukkan untuk adik-adik Najma tercinta yang sudah sejak lama me-request tema ini ..

Tema kali ini adalah tentang bagaimana Najma-menurut adik2-bisa membagi waktu sebaik mungkin hingga dapat menjalani hari-hari sebagai mahasiswa + aktivis sesempurna mungkin (dalam bayangan mereka)..

Oke, pertama saya akan sedikit memberikan sedikit bocoran bahwasanya sampai detik ini Alhamdulillah Najma masih aktif di -kalau tidak salah- 5 organisasi baik dalam maupun luar kampus.

1. BEM KM MIPA UNSOED

2. ROHIS MIPA UNSOED

3. BASIC MIPA UNSOED

4. KAMMI Komisariat Soedirman

5. FOSMA Purwokerto

Untuk fosma purwokerto, mungkin Najma masih belum resmi menjadi pengurus, hanya magang (bisa diartikan Najma hanya menjadi pelengkap keluarga Fosma Purwokerto) ^^

Sedikit cerita mengenai latar belakang saya menulis postingan ini.. Tepat pada tanggal 20 November 2011 lalu, Najma menjadi salah satu panitia dari salah satu acara yang diadakan oleh ROHIS MIPA UNSOED.. di penghujung acara, seluruh panitia yang ada saat itu diminta untuk maju ke depan dan memperkenalkan diri. Saat tiba giliran Najma..

Najma : “Ya, Assalaamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh ..”

Adik-adik akhwat : “Wa’alaykumussalam warahmatullaaahh ..”

Najma : “Sudah kenal kakak kan ya dek? Kalau begitu sudah yaa ndak usah kenalan lagii..”katanya sambil menggoda adik-adiknya.

Adik-adik akhwat : “Yah kakak mah .. belum kok kita belum kenal..”jawabnya sambil mesam-mesem..

“Baiklah, nama kakak Alhamdulillah belum berubah sampai sekarang, masih seperti yang dulu.. Siapa coba?”kata Najma sambil balik bertanya.

“Dhiyanajma Eljannah..” Jawab mereka serentak.

“Yap, betul.. Tuh kan udah pada kenal.. Yaudah deh sekarang langsung sesi pertanyaan saja. Ada yang mau bertanya?”tanya Najma sambil melemparkan senyumnya kepada adik-adik tercintanya itu.

“Kak, saya mau tanya dong.”kata seorang adik sambil mengangkat tangannya.

“Gini kak, kakak kan organisasi nya banyak tuh.. Nah tapi kakak baik banget juga dalam akademis. Trus kakak juga organisasi nya di mana-mana aktif. Itu tuh gimana kak cara nge bagi waktunya?”tanyanya dengan tampang serius.

“MasyaAllah dek.. Kakak masih banyak kurangnya lho..”jawab Najma sambil tersenyum.

Sambil didesak oleh adik-adik yang lain, akhirnya Najma pun menjawab, “emm.. tapi sebelum kakak jawab, ade tau dari mana organisasi kakak banyak? kamu ngintipin kakak ya dek? hehe..”kata Najma sambil guyon.

“Hehe, saya mah tau aja kak..”jawabnya dengan logat sunda.

“Oke oke kakak jawab.. Bismillah ..”

Najma pun menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya dan langsung menjawab pertanyaan adik tersebut.. Continue reading Organisatoris? Siapa takut !

Advertisements

Plan For The Best, Prepare For The Worst ..

Dhiyanajma Eljannah atau yang biasa dipanggil “Najma” adalah seorang akhwat (perempuan) cantik nan sholihah (InsyaAllah) yang sedang menuntut ilmu di sebuah Universitas bernama Universitas Jenderal Soedirman dalam sebuah kota terpencil bernama Purwokerto.

Dhiyanajma-atau izinkan saya menyebutnya Najma- memilih program studi kimia untuk menyelesaikan strata satu nya. Entah mengapa akhwat yang satu ini memutuskan untuk mengambil program studi kimia, padahal ia baru mulai menyukai kimia sejak kelas 2 SMA (itu pun karena guru yang mengajarkannya sangat sayang padanya). Beranjak ke kelas 3, ia malah menjadi tidak suka pada kimia karena (lagi-lagi soal guru), guru yang mengajarnya itu seolah-olah membuat pelajaran kimia yang semula ia senangi menjadi seperti cambuk bagi dirinya. Menyakitkan.

Sampai pada akhirnya ia harus memutuskan sendiri karena sang ummi tercinta telah memberinya kesempatan untuk memilih sendiri bidang apa yang disukainya.

Akhirnya, terpilihlah Kimia. Semula, Najma tidak menyukai kimia murni, karena menurutnya kimia murni itu sangat membosankan. Setelah bertanya ke sana sini, akhirnya ia pun memutuskan untuk memilih Teknik Kimia sebagai Fakultas yang akan dipilih.

Najma mencoba mengikuti SIMAK UI (Selesksi Masuk UI). Saat itu ia memilih Teknik Kimia dan Bioproses. Dengan perasaan was-was dan deg-degan,ia mencoba melihat pengumumannya satu bulan kemudian setelah SIMAK UI. Dan hasilnya, you know what? DITOLAK. Surely, kalau diterima, Najma nggak akan ada di Purwokerto ..

Satu kesempatan tertutup. Masih ada kesempatan lain. Ia pun mencoba mengikuti UM UGM. Saat itu ia memilih kedokteran (pilihan ummi-abi), dan Teknik Kimia. Dan, DITOLAK lagi.

Astaghfirullaaahh..

Saat itu sudah tidak ada lagi kata cerah dalam hidup Najma. Seketika semua menjadi kelabu. Ia bingung harus mencoba ke mana lagi.

Karena pada dasarnya Najma sangat ingin berkuliah di UI, akhirnya ia pun kembali mencoba mengikuti tes di UI. Saya lupa apa namanya.

Saat itu, Najma sudah menuurunkan “harga” pilihannya. Ia memilih Teknik Kimia dan FKM UI. DITOLAK LAGI.

Seakan putus harapan, ia pun berkata kepada sang ummi, “gimana ya mi? Masa mau di swasta? Najma nggak mau,  mi.. Najma mau nya di UI.”katanya sambil memperlihatkan mata berkaca-kacanya.

“Kamu tau kan nak, kalau hasil itu berbanding lurus dengan usaha?”tanya sang ummi sambil menunjukkan senyum terbaiknya.

Najma pun hanya menatap lemah mata sang ummi dengan sayup sambil berkata, “Iya, mi.. Najma tau.. Kayaknya memang Najma belum pantes ada di sana.”

“Bukan begitu maksud ummi, Najma.. Yang ummi mau tekankan itu ya Najma harus lebih serius dan rajin belajarnya. Berdoa nya juga jangan lupa. Usaha 100%, doa 100% ya nak. Masih ada SNMPTN kan, nak?”

“Iya, ummi.. Najma fahim.. He’em, masih ada SNMPTN mi nanti.”jawabnya sambil mengangguk lesu.

“Yasudah, bukitikan ke ummi kalau Najma memang bisa berkuliah di universitas negeri. Mau ngalahin abang kan nak?”tanya sang ummi lagi.

“Iya mi.. Najma pasti bisa ya mi?”Najma pun bertanya balik sambil membulatkan matanya tanda yakin.

“Iya, nak.. Najma pasti bisa. Sudah sana sholat, jangan lupa belajar ya.”pesan sang ummi.

Akhirnya, Najma pun bergegas menuju kamarnya dan mulai serius belajar. Semakin hari, ia semakin serius meski terkadang masih terasa sakit karena ditolak di universitas yang diidamkannya. Tapi itu tidak membuat Najma gentar. Ia hanya berusaha melakukan yang terbaik, yang terbaik, dan yang terbaik.

Salah satu kata dari murabbiyah-nya saat itu adalah, “PLAN FOR THE BEST, PREPARE FOR THE WORST. DO EVERYTHING THAT YOU CAN DO.”

Yup! Kata-kata itu merupakan salah satu kata penyemangat selama Najma berusaha memberikan yang terbaik demi Allah, ummi, dan seseorang di sana.

1 bulan berselang. Waktu yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang juga. Tanpa pikir panjang, saat pendaftaran online, Najma memilih Bioproses UI dan Kimia UNSOED.

Ujian SNMPTN pun akhirnya datang juga. Menaiki bus yang penuh sesak dan terlambat masuk kelas ujian menjadi santapan Najma pada hari pertama ujian.

Subhanallah sekali cobaannya. Biasanya, Najma selalu diantar oleh ummi dan abang tercinta kalau sedang mengikuti ujian-ujian besar semacam itu. Namun saat itu, Najma sedang tidak ingin manja dan ia tidak ingin mengecewakan semuanya. Jadi Najma memutuskan untuk menaiki bus kopaja dengan posisi berdiri selama hampir 2 jam (suasana yang sangat jarang Najma hadapi, tidak pernah bahkan). Continue reading Plan For The Best, Prepare For The Worst ..

Cinta dalam Hening

cintailah dalam hening..

agar jika memang bukan dia yang ditakdirkan untukmu.,

maka cukuplah Allah dan kau yang tahu segala rasamu..

agar kesucianmu tetap terjaga..

agar keanggunanmu tetap terbias..

maka, cintailah ia dalam hening..

 

18 November 2011

dhiyanajma eljannah

Belajar dari Kisah Ali dan Fatimah

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.

Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!

‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.

Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.

Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.

’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. ”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.

”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.

Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.

’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”

Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.

’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!” ’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.

Ia mengambil kesempatan.

Itulah keberanian.

Atau mempersilakan.

Yang ini pengorbanan. Continue reading Belajar dari Kisah Ali dan Fatimah

Titip Rindu Buat Abi

dimatamu masih tersimpan selaksa peristiwa..
benturan dan hempasan terpahat di keningmu..
kau nampak tua dan lelah., keringat mengucur deras..
namun kau tetap tabah..

meski nafasmu kadang tersengal..
memikul beban yang makin sarat..
kau tetap bertahan..

engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini..
keriput tulang pipimu gambaran perjuangan..
bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari..
kini kurus dan terbungkuk..

namun semangat tak pernah pudar..
meski langkahmu kadang gemetar..
kau tetap setia..

ayaaah., dalam hening sepi kurindu..
untuk menuai padi milik kita..

tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan..
anakmu sekarang banyak menanggung beban..

*titip rindu buat ayah-Ebiet G Ade*

#anakmu akan selalu merindumu wahai Abi..
semoga Allah senantiasa memperlihatkan syurgaNya untukmu..
dan semoga..
kelak Allah kan pertemukan kita lagi di jannahNya..
Allah., ku titip rindu ini untuknya.. :’)

salam sayang selalu untukmu, my best Abi.. :”)

Beginilah Tarbiyah Mengajarkan Kami

Tarbiyah.. adalah semacam pelepas dahaga bagi kami, ia memancarkan air ia memancarkan cahaya untuk menembus langsung pada jiwa-jiwa kami. Tarbiyah adalah pendidikan namun bukan hanya terhenti pada titik itu, ia melepaskan jiwa yang tadinya hanya terbelenggu oleh mata “dunia” saja menjadi jiwa yang mampu menaklukkan dunia dengan satu tujuan yakni Ridha Allah SWT.

Lalu seperti apa tarbiyah itu? Tarbiyah itu membuat jiwa yang kering menjadi basah, membuat jiwa yang lemah menjadi kuat. tarbiyah yang kami dapatkan bukanlah hanya sekedar transfer pengetahuan, namun juga berikut aplikasi dari ‘ilmu itu. Tarbiyah yang kami jalani adalah tarbiyah yang hidup di tengah-tengah kehidupan kami, bukan hanya saat pertemuan pekanan yang disebut liqo’ namun tarbiyah itu ada pada kami walaupun kami hanya sendirian.

Kader tarbiyah adalah manusia sama seperti Anda..ia juga lupa dan salah, namun tarbiyah telah ajarkan kami bagaimana agar hidup ini dijalani dengan berusaha sekuat tenaga untuk selalu ingat kepada Allah SWT mengikuti sunnah Rasulullah SAW, mencintai ulama dan umaro dan juga kaum mukmin lainnya serta menjaga hubungan baik dengan non muslim.

Tarbiyah mengajarkan kepada kami untuk menjalani hidup dengan kejujuran, menjalani hidup dengan optimis, menjalani hidup dengan perasaan cinta sebagai makhluk Allah SWT kepada makhluk lainnya. Maka apa ada yang salah dengan kami? Karena itulah kami berusaha untuk masuk ke semua elemen dalam bangsa ini, karena satu alasan yakni kami juga punya saham di negeri ini sebagai anak bangsa yang tak ingin negerinya terpuruk terus menerus..

Tarbiyah ajarkan kami untuk bekerja tak kenal lelah, maka Anda semua tak perlu heran terkadang dini hari kami di pelosok desa, siang hari di luar kota dan malam hari harus rapat untuk urusan umat. kami coba resapi taushiyah guru kami KH Rahmat Abdullah, Continue reading Beginilah Tarbiyah Mengajarkan Kami

Kisah Kelahiran Seorang Bayi

Assalaamu’alaykum Warahmatullah ..

Tepat pada tanggal 8 September 1992 lahirlah seorang bayi mungil dengan jenis kelamin perempuan yang diberi nama oleh kakek nya dengan nama Fitri Nurjannah.. Saat itu kakek sang bayi ini tinggal di dalam pelosok desa terpencil di daerah Solo, sehingga tidak bisa langsung melihat sang cucu tersayangnya itu.. Kakek itu hanya berkata melalui telepon dengan bahasa Jawa campur Arab yang artinya, “saya ingin menamai cucu saya dengan nama Fitri Nurjannah yang berarti cahaya suci dari surga.”

MasyaAllah sekali artinya .. :’)

Namun tidak disangka, saat itu baik orang tua sang bayi, sanak keluarga, maupun tetangga dekatnya agak tidak fahim dengan bahasa arab yang dimaksud. Pikir mereka, “Ah, mungkin sama saja artinya.”

Sampai akhirnya, yang seharusnya namanya adalah Fitri Nurjannah .. menjadi Fitri Nurjanah..

Tau di mana letak perbedaannya?

Yap ! Pada jumlah n nya !

Tak ada yang peduli dengan masalah sepele tersebut..

Sampai kemudian sang bayi tumbuh dewasa, cantik, dan sholihah.. Sang bayi itu pun semakin mengerti tentang apa arti namanya.. Continue reading Kisah Kelahiran Seorang Bayi

Karunia Kegagalan

Kehidupan ini, sebenarnya lebih mirip pelangi ketimbang sebuah foto hitam putih. Setiap manusia akan merasakan begitu banyak warna kehidupan. la mungkin mencintai sebagian warna tersebut. Tapi yang pasti ia tidak akan mencintai semua warna itu.

Demikian pula dengan perasaan kita. Semua warna kehidupan yang kita alami, akan klta respon dengan berbagai jenis perasaan yang berbeda-beda. Maka ada duka di depan suka, ada cinta di depan benci, ada harapan di depan cemas, ada gembra di depan sedih. Kita merasakan semua warna perasaan itu, sebagai respon kita terhadap berbagai peristiwa kehidupan yang kita hadapi.

Seseorang menjadi pahlawan, sebenarnya disebabkan sebagiannya oleh kemampuannya mensiasati perasaan-perasaannya sedemikian rupa, sehingga ia tetap berada dalam kondisi kejiwaan yang mendukung proses produktivitasnya.

Misalnya ketika kita menghadapi kegagalan. Banyak orang yang lebih suka mengutuk kegagalan, dan menganggapnya sebagai musibah dan cobaan hidup. Kita mungkin tidak akan melakukan itu seandainya di dalam diri kita ada kebiasaan untuk memandang berbagai peristiwa kehidupan secara objektif, ada tradisi jiwa besar, ada kelapangan dada serta pemahaman akan takdir yang mendalam.

Kegagalan, dalam berbagai aspek kehidupan, terkadang diperlukan untuk mencapai sebuah sukses. Bahkan dalam banyak cerita kehidupan yang pernah klta dengar atau baca dari orang-orang sukses, kegagalan menjadi semacam faktor pembeda dengan sukses, yang diturunkan guna menguatkan dorongan untuk sukses dalam diri seseorang. Continue reading Karunia Kegagalan

cinta tanpa definisi

Seperti angin membadai. Kau tak melihatnya. Kau merasakannya. Merasakan kerjanya saat ia memindahkan gunung pasir di tengah gurun. Atau merangsang amuk gelombang di laut lepas. Atau meluluhlantakkan bangunan-bangunan angkuh di pusat kota metropolitan. Begitulah cinta. Ia ditakdirkan jadi kata tanpa benda. Tak terlihat. Hanya terasa. Tapi dahsyat.

Seperti banjir menderas. Kau tak kuasa mencegahnya. Kau hanya bisa ternganga ketika ia meluapi sungai-sungai, menjamah seluruh permukaan bumi, menyeret semua benda angkuh yang bertahan di hadapannya. Dalam sekejap ia menguasai bumi dan merengkuhnya dalam kelembutannya. Setelah itu ia kembali tenang: seperti seekor harimau kenyang yang terlelap tenang. Demikianlah cinta. Ia ditakdirkan jadi makna paling santun yang menyimpan kekuasaan besar.

Seperti api menyala-nyala. Kau tak kuat melawannya. Kau hanya bisa menari di sekitarnya saat ia mengunggun. Atau berteduh saat matahari membakar kulit bumi. Atau meraung saat lidahnya melahap rumah-rumah, kota-kota, hutan-hutan. Dan seketika semua jadi abu. Semua jadi tiada. Seperti itulah cinta. Ia ditakdirkan jadi kekuatan angkara murka yang mengawal dan melindungi kebaikan.

Cinta adalah kata tanpa benda, nama untuk beragam perasaan, muara bagi ribuan makna, wakil dari kekuatan tak terkira. Ia jelas, sejelas matahari. Mungkin sebab itu Eric Fromm ~dalam The Art of Loving~ tidak tertarik ~atau juga tidak sanggup~ mendefinisikannya. Atau memang cinta sendiri yang tidak perlu definisi bagi dirinya.

Tapi juga terlalu rumit untuk disederhanakan. Tidak ada definisi memang. Dalam agama, atau filsafat atau sastra atau psikologi. Tapi inilah obrolan manusia sepanjang sejarah masa. Inilah legenda yang tak pernah selesai. Maka abadilah Rabiah Al-Adawiyah, Rumi, Iqbal, Tagore atau Gibran karena puisi atau prosa cinta mereka. Abadilah legenda Romeo dan Juliet, Laela Majenun, Siti Nurbaya atau Cinderela. Abadilah Taj Mahal karena kisah cinta di balik kemegahannya. Continue reading cinta tanpa definisi

100 Proposal ku…

akankah terjadi ?
ke-100 proposal impianku itu akankah menjadi nyata ?
atau hanya menjadi tulisan penghias dinding kamar ?

hanya setiap hari aku mengingatnya ..
hanya setiap jam aku berpikir akan jadi nyata ..
hanya setiap detik aku benar2 berharap semua itu akan terjadi ..

salahkah ?
salahkah bila aku hanya memikirkannya tiap saat ?
salahkah bila aku terus berusaha dan berdoa untk terwujudnya mereka ?

entah mengapa ..
ada segelintir rasa yg hadir ketika aku mengingat ke-100 proposal impianku itu ..
entah apa nama rasa itu ..
yg aku tau , Allah sdg melihat proposalku untk di jadikan nyata semua , atau ada yg di hapus dan di ganti dgn yg lbh baik ..
hanya Allah yg tau ..

aku hanya tak bisa berhenti berdoa agar ke-100 proposal permintaan itu dikabulkan di waktu yg tepat ..

sudah ada negara yg menunggu nunggu kedatanganku untk diperlihatkan betapa indahnya winter in Tokyo ..

tetap semangat melebarkan sayap , demi cita dan cinta ..

on my way to Jogja ,
16 syawal 1432 H

-dhiyanajma eljannah-