Taman Emasku, Buat Siapa ?

Indonesia merupakan sebuah negara yang memiliki banyak Sumber Daya, baik itu Sumber Daya Manusia maupun Sumber Daya Alam. Namun terkadang, dari banyaknya SDA dan SDM tersebut, Indonesia justru tidak dapat memanfaatkannya dengan baik. Salah satu Sumber Daya Alam yang tidak bisa di-manage oleh Pemerintah Indonesia adalah Tambang Emas yang berada di Mimika, Papua yang dikelola oleh PT Freeport. PT Freeport Indonesia (PTFI) merupakan perusahaan afiliasi dari Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc. Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc. (FCX) merupakan perusahaan tambang internasional utama dengan kantor pusat di Phoenix, Arizona, Amerika Serikat.

Tambang Emas yang berada di Papua dan dimiliki sepenuhnya oleh Indonesia, justru dikelola oleh perusahaan asing dan Indonesia hanya mendapat sekitar 1,5 persen saja dari triliyunan rupiah yang dikeruk oleh perusahaan asing tersebut. Andai kita bisa mengolah sumber daya alam kita sendiri saya jamin negara ini akan menjadi macan asia. Dan yang paling mengejutkan ternyata freeport bisa menjadi perusahaan multinasional dengan hanya mengandalkan hasil tambang di Papua.

Sumber Daya Alam yang melimpah di tanah Papua selalu menjadi incaran negara-negara lain yang ingin memanfaatkan kekayaan alam di Bumi Cendrawasih tersebut. Tanah Papua yang kekayaan alamnya baru dimanfaatkan sebesar tiga persen tersebut masih tergolong pulau yang belum dieksploitasi. Sebagai salah satu paru-paru dunia, alam Papua memang harus dilestarikan, terutama hutan hujan tropis karena dapat mengurangi kadar karbondioksida di udara.

Sejak awal kemerdekaan negara Indonesia, Papua selalu menjadi rebutan antara Indonesia dengan negara lain. Kekayaan alam memang menjadi incaran banyak negara yang ingin mengeksploitasi demi kemajuan bangsanya. Namun, tidak semua kekayaan dapat diperlakukan seperti itu.

Papua harus diperlakukan berbeda terhadap pulau-pulau lainnya, karena keasriannya merupakan warisan untuk digunakan dan dimanfaatkan oleh anak cucu. Layaknya harta karun, Papua merupakan harta kekayaan alam terakhir yang harus dilindungi oleh Indonesia. Pemanfaatan kekayaan Papua seharusnya dilakukan tanpa cara eksploitasi yang terlalu merusak alam. Penerapan mega proyek tambang yang dapat merusak alam juga harus dipikirkan berkali-kali. Meskipun kekayaan tambang di Papua sangat melimpah, bukan berarti kita semena-mena menggunakannya sekarang demi kemajuan yang belum sepenuhnya dapat mengembangkan kemajuan Indonesia dan potensi lain yang dimiliki Papua.

Seperti yang telah kita ketahui, terdapat mega proyek tambang yang terdapat di Papua yaitu PT Freeport. Hasil dari proyek tambang tersebut sebagian besar diborong oleh PT Freeport dan sebagian kecil diberikan ke pemerintah. Bila kita melihat kondisi seperti ini, sangat mengenaskan apabila Papua dieksploitasi secara besar-besaran kekayaan alamnya yang nantinya dinikmati sebagian besar oleh negara lain.

Papua yang belum maju kondisi ekonomi dan pendidikannya telah mendapatkan eksploitasi pyoyek tambang kapitalis yang tidak ada tanggung jawab untuk mengembangkan daerah sekitarnya. Masyarakat Papua menjadi korban dari kapitalisme yang terus-menerus menggerus kekayaan tanah kelahirannya untuk kepentingan yang tidak dapat dinikmati secara nyata oleh masyarakat Papua tersebut.

Di sisi lain, pemiskinan terus berlangsung di wilayah Mimika. Kesejahteraan penduduk Papua tak secara otomatis terkerek naik dengan kehadiran Freeport yang ada di wilayah mereka tinggal. Di wilayah operasi Freeport, sebagian besar penduduk asli berada di bawah garis kemiskinan dan terpaksa hidup mengais emas yang tersisa dari limbah Freeport. Selain permasalahan kesenjangan ekonomi, aktivitas pertambangan Freeport juga merusak lingkungan secara masif serta menimbulkan pelanggaran HAM.

Timika bahkan menjadi tempat berkembangnya penyakit mematikan, seperti HIV/AIDS. Tercatat, jumlah tertinggi penderita HIV/AIDS Indonesia berada di Papua. Keberadaan Freeport juga menyisakan persoalan pelanggaran HAM yang terkait dengan tindakan aparat keamanan Indonesia pada masa lalu dan kini. Hingga kini, tidak ada satu pun pelanggaran HAM yang ditindaklanjuti serius oleh pemerintah bahkan terkesan diabaikan, pemerintah terkesan ‘buta’ .

Kegagalan pembangunan di Papua dapat dilihat dari buruknya angka kesejahteraan manusia di Kabupaten Mimika. Penduduk Kabupaten Mimika, lokasi di mana Freeport berada, terdiri atas 35% penduduk asli dan 65% pendatang. Hampir seluruh penduduk miskin Papua adalah warga asli Papua.

Freeport telah mendapatkan keuntungan yang melimpah dari sumberdaya mineral di Papua. Keuntungan tersebut telah menjadikan Freeport berubah dari perusahaan gurem, tak dikenal, menjadi perusahaan tambang raksasa di dunia hanya dalam waktu singkat. Namun, patut diduga perubahan menjadi perusahaan raksasa ini diperoleh dengan berbagai penyelewengan, manipulasi, dugaan KKN, tekanan politik dan jauh dari kaidah-kaidah bisnis dan pola hubungan bisnis dan negara yang terpuji dan beradab.

Menghadapi kondisi demikian, seharusnya pemerintah Indonesia bersikap lebih percaya diri menggunakan posisi tawar yang tinggi untuk mendapatkan hasil eksploitasi sumberdaya yang optimal. Indonesia pemilik kekayaan, ‘mereka’ yang datang ke sini untuk mengais rezeki, bukan sebaliknya!

Pemerintah telah kehilangan nurani, yang seharusnya saat ini harus berani mengambil langkah tegas menindak Freeport yang jelas-jelas telah melanggar hukum. Sementara dasar hukum untuk itu sudah tersedia. Undang-Undang tentang Lingkungan Hidup, Undang-Undang Kehutanan dan Perpajakan dapat dipergunakan bila memang ada niat baik dari pemerintah untuk menghentikan ulah Freeport ini. Langkah pertama,adalah dengan melakukan audit lingkungan dan audit keuangan terhadap Freeport. Kemudian, benahi kebijakan-kebijakan dengan perusahaan asing yang sudah tertera dalam Undang Undang Negara Indonesia. Karena bagaimanapun juga, Pt Freeport adalah milik Negara asing dan Pemerintah Indonesia memiliki hak serta kewajiban untuk menindaklanjuti hal-hal yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang ada di Indonesia

Sejatinya, sebuah Negara adalah satu, bagaikan tubuh seorang manusia. Maka ketika ada salah satu bagian yang terasa sakit, pastilah bagian yang lain pun merasakan sakitnya. Oleh karena itu, kita selaku rakyat Indonesia atau lebih khususnya lagi MAHASISWA, mari buka mata, hati, dan telinga. Lihatlah, di ujung Negara ini- Papua, ada taman tambang emas yang senantiasa dinikmati oleh Negara asing yang senantiasa dikeruk untuk kepentingan bangsa mereka. Lihatlah, setelah mereka puas mengeruk kekayaan bumi maritime kita ini, mereka lantas pergi dengan berbagai kerusakan lingkungan yang mengancam kesehatan masyarakat Papua. Bumi Papua yang indah nan asri, secara perlahan akan menjadi subuah tanah penuh limbah yang tak bersisa. Miriskah? Atau masihkah kita menutup mata kita? Mari bergerak kawan ! Karena solusi dari permasalahan-permasalahan Indonesia itu, dapat terselesaikan oleh tangan-tangan para pemuda nya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s