Kali ini tentang rindu ..

 

Kali ini tentang rasa yang sama : rindu.

Entah,, pada malam yang menjemput siang..

Atau pada awan yang menjemput hujan..

Semuanya merujuk pada satu kata : rindu.

 

Rindu akan ketidakhadiran sang bintang pada kegelapan malam..

Atau akan ketidakhadiran mentari di siang hari..

Semuanya sama: rindu.

 

Ah…

Sungguh..

Kali ini rasanya sama..

Pun, berhari yang lain pun sama..

Seperti sepatu tanpa pasangannya..

Seperti burung dengan sebelah sayapnya..

Atau seperti apapun itu,, yang tidak seimbang..tidak menganut prinsip dualisme; bahwa yang ada di dunia pasti berpasangan..

 

Seperti magnet dengan kutub-kutubnya..

Atau seperti hollow cathode lamp dengan anoda tungsten atau katoda silindrisnya..

Saling berpasangan..

Seperti,, tidak bisa melakukan apapun jika tanpa pasangannya..

Continue reading Kali ini tentang rindu ..

Koleris-Sanguinis??

Pertama kali Najma tes kepribadian itu saat masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama.. Lalu berlanjut saat SMA,, masih belum sadar juga.. lanjut 3 kali saat kuliah … Najma fikir, akan berubah seiring dengan perubahan masa.. Namun ternyata sama sajaa..

Berkali-kali mengikuti tes,, berkali-kali pula mendapat hasil yang sama : Koleris-Sanguinis..

Menurut survey yang dilakukan di sana sini ,, yang sudah terrangkum dalam bukunya mba Afifah Afra “…And The Star is Me”..

Tipe kepribadian Koleris itu…

Koleris adalah pribadi orang kuat. Ia adalah orang yang ekstrovert, pelaku sebuah pekerjaan, dan selalu optimis. Ia berbakat sebagai pemimpin, dinamis dan aktif, sangat memerlukan perubahan, harus senantiasa memperbaiki kesalahan, kemauan kuat dan tegas, tidak emosional, tidak mudah patah semangat, bebas dan mandiri. Ia senantiasa memancarkan keyakinan, bisa menjalankan apa saja, motivator yang hebat, berorientasi pada target, detail, terorganisir dengan baik, cenlderung untuk mencari pemecahan yang praktis, bergerak cepat, mendelegasikan pekerjaan, menekankan hasil, dan kompettitif. Continue reading Koleris-Sanguinis??

Kenapa Harus BEM-U?

Satu tahun silam, saat saya baru menginjakkan kaki di Universitas Jenderal Soedirman ini, saya langsung berminat masuk dan menjadi bagian dari BEM KM MIPA. Banyak hal yang dapat saya ambil pelajaran dari keikutsertaan saya di BEM. Karena saya dulu ditempatkan di Kementerian Komunikasi dan Informasi, maka saya pun belajar tentang pembuatan artikel-artikel untuk memberikan informasi kepada civitas akademika di MIPA. Selain itu, saya pun belajar tentang advokasi dan aksi. Satu hal yang sangat saya suka ketika saya masuk BEM adalah : AKSI. Menurut saya, bukan anak BEM kalau nggak aksi. Bukan berarti aksi adalah satu-satunya jalan penyelesaian masalah, tetapi aksi adalah bentuk protes ketika proses advokasi yang dilakukan tidak diterima secara baik.

Lantas mengapa saya memilih BEMU, dan bukan tetap berada di kabinet BEM KM MIPA? Alasan yang pertama adalah karena saya ingin meng-ekspansi tingkat kepemahaman saya tentang BEM. Kalau saya tetap berada di BEM KM MIPA dan tidak berusaha mencari pengalaman organisasi di luar MIPA, bisa jadi pikiran saya menjadi terkotak-kotakkan sehingga tidak berusaha out of the box. Karena secara tidak langsung, saya hanya menghadapi masalah-masalah yang ada di MIPA saja, sedangkan ketika saya memilih BEMU, maka saya pun akan mengetahui tentang masalah-masalah di fakultas lain.

Alasan kedua mengapa saya memilih BEMU adalah, saya sudah gerah  dengan demokrasi kampus yang tak kunjung sehat. Saya ingin merubah paradigma berpikir civitas akademika UNSOED agar turut berpasrtisipasi atas segala bentuk pesta demokrasi yang diselenggarakan oleh UNSOED. Entah itu pemilihan Presiden-Wakil Presiden BEM fakultas,  pemilihan Presiden-Wakil Presiden BEM UNSOED maupun pesta demokrasi lainnya. Saya ingin agar BEM UNSOED dapat masuk dan merasuk ke dalam jiwa lembaga-lembaga fakultas agar dapat menerima dengan baik proses-proses demokrasi yang berjalan, bukan malah menolaknya karena alasan-alasan yang tidak rasional. Seperti halnya proses PEMIRA (Pemilihan Raya) yang sudah 3 tahun dijalankan, dan 3 tahun juga tidak pernah beres prosesnya. Continue reading Kenapa Harus BEM-U?

Kader Dakwah Kampus Ideal

Wuih .. serem tuh bacanya yaa..

Se-ideal-idealnya seseorang tetep aja ngga bisa dibilang ideal di mata yang lain.. kecuali siapa coba?? Hehe, Yup! Rasulullah SAW..

Maka itu,, sebelum baca kalimat-kalimat berikutnya.. Najma sangat menganjurkan temen-temen untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW ..

Sudah? Alhamdulillah .. ^^

Yukk mari kita kupas maksud, tujuan, latar belakang, isi, dan penutup dari judul yag Najma tulis .. #lho?? Kebanyakan Najj..

Jadi sebenarnya ini Najma kutip dari salah satu kata-kata seorang yang menurut Najma sangat spektakuler yaitu Kak Ridwansyah Yusuf Achmad.. Ada tuh blog nya di daftar temen-temen Najma^^

Kata beliau, karakter dakwah kampus ideal itu ada 8 ..

1. Aktif di Lembaga

Maksud dari poin yang pertama ini adalah, setiap kader dakwah kampus itu selain melingkar dan mengisi lingkaran, pun harus aktif di lembaga-lembaga yang ada di kampus maupun ekstra kampus.. entah Lembaga Dakwah Fakultas atau Lembaga Dakwah Kampus, Lembaga Eksekutif Mahasiswa, atau lembaga-lembaga lainnya.

2. Tidak Apatis

Nahlo.. Apatis itu makanan apa ya? Hehe,, bukan makanan insyaAllah .. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, apatis berarti  acuh tidak acuh; tidak peduli; masa bodoh .. Misalnya nih yaa,, kampus kita lagi heboh dengan suatu kebijakan baru yang dikeluarkan oleh petinggi-petinggi universitas yang tentunya akan mempersulit beberapa mahasiswa saja, tidak semuanya. Dan kemudian si orang apatis itu berkata, “Ah, ngapain ngurusin itu sih.. Lagian kan jumlah yang terkena imbasnya minoritas saja.. Sudahlah,, mari kita urusi yang lain..”

Ada yang seperti itu? Wah, kalau ada.. Mungkin perlu diperiksa hati nya .. Masih pada tempatnya ngga ya? Hehe..

Seorang kader dakwah kampus, tidak semestinya berbuat seperti itu. Meskipun imbasnya hanya kepada minoritas teman-teman, tapi tetap itu adalah urusan seorang kader dakwah.. Judulnya aja “Kader Dakwah”,, masa apatis? ^^

3. Ter Tarbiyah dengan Baik

Tarbiyah itu jenis sayuran apa ya? Bukan.. bukan.. bukan sayuran… Tarbiyah itu sejenis kacang-kacangan .. #lho?? Salah lagi..

Tarbiyah itu berarti pembinaan .. Kalau tadi sempet cari di Kamus Besar Bahasa Indonesia, katanya begini “No entry found for this word”.. Hehe,, memang tidak semua manusia tau makna kata ini =)

Yaa,, seperti tadi yang Najma katakan bahwa tarbiyah berarti pembinaan .. Kalau temen-temen ingat, orang yang pertama kali membina temen-temen siapa? Yup! Ayah dan Ibu .. Nah,, tapi temen-temen tau ngga siapa Murabbi nya para manusia? *Murabbi : orang yang men-tarbiyah

Siapa coba Murabbi nya para manusia ? Yuhuu betull.. Ia lah Rasulullah SAW ..

Nah,, Rasulullah SAW dulu sudah mentarbiyah sahabat-sahabatnya sehingga mereka pun menjadi orang-orang hebat.. Sahabat-sahabat Rasulullah yang sudah menjadi orang-orang hebat itu kemudian mentarbiyah manusia-manusia lain pada zamannya sehingga kemudian syahid adalah tujuannya..

Keren gak tuh? Jadi kayak bisnis MLM (Multi Level Marketing) .. hehe..

Nah trus jadinya gimana Naj?

Tarbiyah yang baik itu adalah ketika kita sudah mentoring/liqo/halaqah/apapun namanya,, sudah mendapatkan ilmu dari lingkaran-lingkaran kita,, kita tidak serta merta menyimpannya dalam buku catatan, di pakai sendiri, tau sendiri, dan sholeh sendiri..

Tidak seperti itu..

Tapi,, membaginya dengan yang lain.. Mengajarkan kepada yang lain.. Caranya ya lewat mengisi mentoring/liqo/halaqah itu .. Jadi selain dibina,, pun kita harus membina ^^

4. IPK > 2.75

Kader Dakwah Kampus tuh harus pinter gak siih? Apa cuma harus pinter dakwah nya aja?

InsyaAllah selain mendakwahi orang lain untuk amar ma’ruh nahi munkar,, pun harus mendakwahi diri sendiri untuk serius dalam kuliahnya.. Continue reading Kader Dakwah Kampus Ideal