Kenapa Harus BEM-U?

Satu tahun silam, saat saya baru menginjakkan kaki di Universitas Jenderal Soedirman ini, saya langsung berminat masuk dan menjadi bagian dari BEM KM MIPA. Banyak hal yang dapat saya ambil pelajaran dari keikutsertaan saya di BEM. Karena saya dulu ditempatkan di Kementerian Komunikasi dan Informasi, maka saya pun belajar tentang pembuatan artikel-artikel untuk memberikan informasi kepada civitas akademika di MIPA. Selain itu, saya pun belajar tentang advokasi dan aksi. Satu hal yang sangat saya suka ketika saya masuk BEM adalah : AKSI. Menurut saya, bukan anak BEM kalau nggak aksi. Bukan berarti aksi adalah satu-satunya jalan penyelesaian masalah, tetapi aksi adalah bentuk protes ketika proses advokasi yang dilakukan tidak diterima secara baik.

Lantas mengapa saya memilih BEMU, dan bukan tetap berada di kabinet BEM KM MIPA? Alasan yang pertama adalah karena saya ingin meng-ekspansi tingkat kepemahaman saya tentang BEM. Kalau saya tetap berada di BEM KM MIPA dan tidak berusaha mencari pengalaman organisasi di luar MIPA, bisa jadi pikiran saya menjadi terkotak-kotakkan sehingga tidak berusaha out of the box. Karena secara tidak langsung, saya hanya menghadapi masalah-masalah yang ada di MIPA saja, sedangkan ketika saya memilih BEMU, maka saya pun akan mengetahui tentang masalah-masalah di fakultas lain.

Alasan kedua mengapa saya memilih BEMU adalah, saya sudah gerah  dengan demokrasi kampus yang tak kunjung sehat. Saya ingin merubah paradigma berpikir civitas akademika UNSOED agar turut berpasrtisipasi atas segala bentuk pesta demokrasi yang diselenggarakan oleh UNSOED. Entah itu pemilihan Presiden-Wakil Presiden BEM fakultas,  pemilihan Presiden-Wakil Presiden BEM UNSOED maupun pesta demokrasi lainnya. Saya ingin agar BEM UNSOED dapat masuk dan merasuk ke dalam jiwa lembaga-lembaga fakultas agar dapat menerima dengan baik proses-proses demokrasi yang berjalan, bukan malah menolaknya karena alasan-alasan yang tidak rasional. Seperti halnya proses PEMIRA (Pemilihan Raya) yang sudah 3 tahun dijalankan, dan 3 tahun juga tidak pernah beres prosesnya.

Alasan ketiga, saya ingin memberikan pengabdian terbaik saya kepada UNSOED. Salah satunya dengan menjadi bagian dari BEM UNSOED, mengikuti segala proses yang ada, mengambil pelajarannya, dan lantas membaginya agar setiap mahasiswa UNSOED pun merasakan apa yang saya rasakan. Merasakan kenikmatan ketika benar-benar mengabdi dan ditujukan hanya untuk kesejahteraan seluruh mahasiswa, bukannya malah menikmati jabatan-jabatan yang diemban. Mungkin ini terlihat impossible atau non sense atau mungkin juga terlihat terlalu idealis. Tapi itu yang ingin saya tanamkan di hati setiap pengurus nanti agar tidak ada kesia-siaan ketika telah ‘terlanjur’ terjerembab di BEM UNSOED. Agar tidak ada kata menyesal ketika telah berlelah-lelah menjalani rapat dan segala prosesnya di BEM UNSOED. Agar tak ada kata menyerah jika setiap advokasi yang kita lakukan, senantiasa mendapat kecaman atau bahkan ditolak. Agar senantiasa membakar semangatnya demi UNOSED yang lebih baik, UNSOED yang solusi, unggul, dan kompetitif.

Kajian Strategis dan Advokasi adalah kementerian yang saya pilih di BEM UNSOED. Selain karena alasan-alasan yang telah saya jelaskan di atas, saya pun ingin menguji kemampuan saya untuk bersaing menjadi wanita inspiratif di Forum Perempuan BEM Seluruh Indonesia. Saya ingin seperti mereka yang senantiasa meninggikan derajat wanita dengan kehormatannya, kecerdasannya, dan keunggulan-keunggulan lainnya dibandingkan pria. Seperti mereka yang senantiasa mengkaji tentang masalah-masalah yang biasa dihadapi wanita. Pembatasan ini dan itu yang sampai melahirkan RUU KKG dari rahim yang tidak bertanggung jawab, dan bisa jadi malah berusaha menghancurkan keistimewaan kaum hawa. Forum Perempuan BEM Seluruh Indonesia mempunyai visi yaitu “Membentuk Perempuan Berkarakter Pembangun Negeri dan Menjadikan Perempuan sebagai Pilar Bangsa”.

Saya teringat salah satu kalimat dari seorang Presiden BEM UNSOED 2011 ketika mengisi acara di LKMM-TM. Kata beliau, “Aku adalah pujangga peradaban yang akan merangkai senyum Indonesia”. Dan saya berharap, simpul senyum itu perlahan akan kita rangkai mulai dari sini, titik dimana kita memulai perjuangan bersama.

Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia!

 

 

Purwokerto, 24 April 2012

Dhiyanajma Eljannah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s