Ilayka yaa Amirunaa

Sesungguhnya hanya bagi Allah-lah tempat segala puji yang terus akan senantiasa terlantukan oleh hamba-hambaNya pada setiap saat dalam segala ruang.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada
Muhammad, Rasul akhir zaman, yang menunjuki manusia jalan kehidupan.
Kepada keluarganya, kepada para sahabatnya, dan kepada para pengikutnya
yang mengikuti jalannya dengan taat.

Semoga limpahan barakah juga tercurah kepada mereka yang memilih
melintasi jalan yang terjal dan membatu bernama jalan dakwah. Terlebih
kepada mereka yang telah memilih pengorbanan lebih besar dengan
memimpin manusia di jalan tersebut.
Sekali lagi ya Allah, kumohonkan pula limpahkan rahmat-Mu secara khusus
untuk seorang lelaki kurus tinggi menjulang. Yang senyumnya seolah
enggan lepas dari wajah imutnya. Yang suara bas hangatnya telah berubah
makna dari semata kehangatan ukhuwwah menjadi kharisma seorang
pemimpin.

Wajah putihnya, kuyakini, hari ini dan hari-hari mendatang mungkin
makin memucat kelelahan. Tapi kuyakini pula, senyum lucunya takkan
pernah menghilang. Aku yakin.

Sungguh, ia bukanlah orang yang luar biasa. Ia bukan orang yang kritis
dan mampu mengungkap gagasannya dalam tulisan bernas. Bukan pula orator
gagah yang kalimat-kalimatnya mampu memprovokasi ribuan massa. Bukan
pula konseptor organisasi atau gerakan yang cerdas yang sanggup
merancang detil masa depan organisasi dengan tajam terencana.

Ia orang biasa-biasa saja. Tapi sungguh – bagiku – ia adalah orang yang
paling tepat untuk saat ini. Dan untuk semua idealisme yang telah
tertumpahkan tetapi mesti terkompromikan dengan realitas.

Ia melewati masa dua tahun terakhir ini dengan berat. Muktamar III
Lampung meletakannya dalam dilema yang kompleks. Tanpa sepemahamannya,
KAMMI Daerah yang ia pimpin memilih “walk out”, bersama dua KAMMI
Daerah lain. Situasi yang samasekali tak ia kehendaki saat ia harus
terbaring sakit yang menghambatnya hadir dalam Muktamar. Ketua
Teritorialnya yang terpilih memilih menyatakan tak bersedia. Cukup
beralasan, karena merasa terpilih “saat tidur” dan merasa tidak cukup
legitimasi karena hanya dipilih oleh satu KAMMI Daerah, setelah ketiga
lainnya “walk out”.

Lelaki tinggi menjulang ini akhirnya memenuhi prinsip dakwahnya,
memilih bersedia menjadi Ketua Teritorial, memimpin dalam situasi yang
sulit, mengatasi resistensi KAMMI-KAMMI Daerah itu terhadap KAMMI
Pusat. Sesulit menumpuk kartu menjadi piramida. Sedikit demi sedikit
terbangun, untuk kemudian runtuh tertiup angin. Ia perlahan mencoba
memahami keinginan eksistensial, kebutuhan representasi, jerat realitas
politik pragmatis “pusat Indonesia”, dan cengkeraman “mentor-mentor”.
Ia juga mencoba mengingatkan semuanya atas nama logika ukhuwwah,
kemestian qiyadah wal jundiyah, garis politik moral , kesehatan logika
organisasi, dan kepentingan perasaan KAMMI Daerah “pelosok”.

Tetapi ia memang memimpin dengan sulit. Mukernas Surabaya “menjebaknya”
dalam situasi lebih kompleks. Saat kartu-kartunya belumlah tersusun
sempurna, kartu lainnya terkoyak. Ketidakpercayaan kepada kemampuan
politik dan keorganisasian KAMMI Pusat saat itu, memaksanya untuk
muncul memimpin organ baru yang menulangpunggungi seluruh aktivitas
politik KAMMI bernama Tim Back Up Organisasi (TBO) Politik.
Menjadi “ketua” atas “ketua”.

Maka wajar, ia kelelahan. Ia mencoba memilih istirahat dan berganti
haluan. Menjadi profesional. Dan ia telah menyiapkan segalanya.

Tanggal 26, datang awal di Muktamar IV Kalimantan Timur. Tanggal 28
Laporan Pertanggungjawaban. Kemudian tanggal 30 ia pulang. Kembali ke
Jakarta mengurus Visa. Inggris telah menantinya, untuk setahun kedepan.
Belajar. Gratis.

Semuanya sempurna. Bagi manusia. Tapi keputusan Rabb-nya berbeda. Maha
suci Allah dengan seluruh keputusan-Nya. Muktamar KAMMI begitu tenang
di permukaan dengan sidang-sidang yang mengasyikkan. Tetapi
sesungguhnya begitu hiruk pikuk di dalam dan di belakang layar.

Segalanya bergerak begitu cepat. Ia berada pada titik mendebarkan,
ketika banyak orang – elit KAMMI Pusat dan Daerah – memintanya untuk
memimpin gerakan mahasiswa terbesar di Indonesia. Ia telah katakan
semuanya: tentang sekolah, tentang beasiswa, tentang Inggris, dan
tentang visa. Tapi orang-orang berkata berbeda.

Maka ia memilih memenuhi prinsip dakwahnya. Atas semuanya, ia berkata:
Ya!

Sehingga, padanyalah terhampar masa depan gerakan, masa depan
mahasiswa, masa depan Indonesia.

Untuk itu, kepada akhuna al fadhil Yuli Widi Astono. Atas seluruh
pengorbanan ini. Di tengah ribuan hunjaman kritik dan peringatan kami
kepadamu. Saat ini dan di masa depan. Kami, siap mendengar dan taat.

U’ahiduLlaaha ‘alaa an a’mala ma’al harakatu lith thulaab al muslimuun.
Linushratihi syari’atihi, wada’wati ilayhi. WaLlaahu ‘alaa maa aquulu
wakiila

# dikutip dari buku “Mengapa Aku Mencintai KAMMI” chapter 13

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s