Tinggal pilih : menggantikan atau tergantikan?

mungkin hari ini, Allah ingin kita membicarakan masa depan..

bukan…bukan masa depan kita.. tapi masa depan dakwah..

10:06 pm

“Aku mau nangis.”

10:13 pm

“Kenapa neng?”

10:18 pm

“Aku.mau.nangis.”

10:38 pm

“Eum ga bs cerita ya shab? yaudah deh.. *bighug*

10:57 pm

“Sekarang lg sibuk ga Naj?”

10:57 pm

“Ngga (:”

10:58 pm

“Aku telpon gimana?”

10:59 pm

“Iyaaa telp aja neng,”

Beberapa detik kemudian, muncul nama nya memanggil-manggil di handphoneku..

Shabrina Nida Alhusna is calling..

–> Answer –> Click..

“Assalaamu’alaykum shabb…”

“Wa’alaykumussalam naj..”

Setelah salam itu, Najma menanyakan bagaimana kabarnya,, dan…kenapa ia tiba-tiba ingin menangis..

Tapi tak dapat terdengar cerita-cerita yang biasanya langsung mengalir darinya.. sepertinya memang ia belum bercerita. ia hanya menangis. benar-benar menangis.

Lama sekali. Najma hanya mendengarnya menangis.

Sengaja didiamkan,, supaya dia lega kalau sudah menumpahkan air matanya.

Mungkin jika saat itu Najma di sana, Najma rela jika bahu Najma basah karena air matanya. tapi mereka terpisah. jarak. namun hati mereka tetap saling terkait. bahkan sampai detik tadi.

“Shab kenapa?”

no answer. hanya tangisan yang terdengar.

“Hemm.. yaudah.. nangis dulu aja ya..”

masih menangis.

“Shab? udah nangisnya?”

mulai berhenti. dan lama-lama semakin berhenti.

“Naj.. Najma ksh tausiyah ke shabrina dong..”

“Ha? tausiyah tentang apa Shab?”

“Apapun..”

“Shab cerita dulu kenapa Shab nangis…”

“Itu masalah nanti, Naj..”

Akhirnya Najma pun membacakan beberapa kalimat tausiyah untuknya. namun beberapa saat kemudian, Najma kembali bertanya dan mendesak mengapa ia sampai menangis.

Lalu dia hanya membacakan note-note yang ia simpan di BB-nya. terkait dengan apa yang ia rasakan akhir-akhir ini.

dan belakangan, Najma pun tau masalahnya.

–masalah kader–masalah keoptimalan–masalah pemlotingan–masalah muyul–masalah kemauan–

“Kak… Shabrina ngga bisa di sya’bi.. shabrina ngga bisa kak..”

itu sepenggal sms nya yang ia kirimkan kepada seorang kakak.

“hemm..masalah lini ya shab?”

“aku ngga bisa di sya’bi, Naj.. aku tuh awalnya bergerak di ilmy.. menjadi sosok muslimah yang cerdas,intelektual,berkarya nyata,potensial, dll.. aku bingung kalau harus bergerak di sya’bi saat ini. apalagi kakak itu punya mimpi2 besar yang ia bebankan ke Shabrina.. Shabrina ngga bisa Naj…”

“Lho,, bukannya nanti memang out put dari masing2 kita itu memang bergerak di masyarakat ya shab?”

“Iya, tapi nanti kan Naj? ngga sekarang kan? sekarang kan status kita sebagai mahasiswa.. ya target utamanya itu mahasiswa.. bukan masyarakat.”

“Tapi bukannya kita harus bermanfaat untuk semua ya shab? mungkin kakak itu merasa kalau shabrina berkompeten di lini mana saja, makannya sekarang shab dikasih tantangan untuk bergerak di sya’bi.”

“nggak bisa Naj.. ini ngga sesuai dengan skenario Shabrina..”

“Skenario? emangnya skenario shabrina harus sama dengan skenario Allah?”

“Hhh.. udah tau pasti Najma mau ngomong kayak gitu..”

“Shabrina ngga bisa pokoknyaa..”

“Heum.. coba shab tabayyun dulu sama beliau.. sama MR..”

“Shab udah tabayyun ke MR, Naj… kata MR shabrina.. dikomunikasikan saja.. tapi harus dengan alasan yang syar’i. yang ‘itu’ ya shab.. bukan yang lain..”

“heum.. terus shab udah ngejelasin ke kakak itu?”

“udah Naj. sering. bahkan beliau itu slalu update status bbm kalau habis shab smsin. kayak tadi nih.. lagi-lagi shab jelasin tentang alasan-alasan terkait masalahnya. lalu beberapa menit kemudian, beliau update status bbm, “THIS IS NOT THE BEST TIME..”

“Hemm.. separah itu kah?? *berpikir* Shab,, dakwah memang harusnya kan sesuai sama muyul ya.. entah itu dilihat dari kemampuan atau kemauan. tapi tetep yang dilihat di awal adalah kemauan. dulu, saat tahun pertama shab di plotkan di ilmy, senior-senior shab tau kalau shab bisa membangun citra positif untuk kader, temen-temen ammah, atau bahkan dosen.. nah dan Najma rasa, Shabrina sukses dengan hal itu.. you’re the best muslimah there.. sekarang, mungkin amal ke masyarakat jauh lebih dibutuhkan. untuk lebih membuat gamais ITB menjadi lebih rahmatan lil ‘alamin. tidak hanya bermanfaat untuk mahasiswa, tetapi juga untuk masyarakat.. nanti, kalau memang keputusannya shab harus di sana, ya sudah.. jalani sebaik mungkin.. karena kalau kita udah ga mau lagi berada di jalan ini,,, tinggal tunggu saja kita tergantikan dengan mereka yang jauh lebih hebat. lagian, emang kalau shab jadi fokus ke sya’bi, shab berhenti jadi muslimah cerdas? nggak kan? shab malah bisa jalanin keduanya. shab yang cerdas dan bersahabat tetep bisa jadi sosok muslimah yang dijadikan teladan masyarakat kampus, pun dengan sosok shab yang bersahabat dan cerdas, shab bisa merangkul masyarakat sekitar untuk bisa merasakan indahnya Islam.. cerdas-bersahabat dengan bersahabat-cerdas.. sama, tapi berbeda. di kampus, shab adalah muslimah yang cerdas dan bersahabat.. di masyarakat, shab adalah muslimah yang bersahabat tapi cerdas.. see?”

Setelah Najma jelaskan panjang lebar juga ia tetap bersikeras untuk tetap di ilmy. dan memajukan dakwah di sana.

itu sosok seorang Shabrina, sahabat Najma.

Ambisius. sangat. mungkin sama dengan Najma. tapi Najma lebih bisa mengontrol dan….eum…. *ah, sudahlah.. memang sahabat itu tidak akan jauh berbeda…

kasus yang dialaminya pun hampir sama. dan itu terjadi tahun ini. tepat ketika Najma mengatakan untuk berproses lebih lanjut di siyasi. tetapi ada rencana lain yang diselipkan..

marah? kecewa?

insyaAllah ngga..

paling cuma mutung.. hehe… *becanda ^^

terkadang memang rencana kita tidak selalu sesuai dengan takdir yang terjadi. semua yang tertuang di ‘si merah’ pun tidak melulu menjadi nyata. tapi itulah nikmatnya. nikmat ketika kita berhasil mengambil benang merah dari segala yang menjadi episode dalam hidup. nikmat ketika kita ikhlas atas segala qadha nya.. untuk apa kita hafal rukun iman yang ke-6 tapi kita tidak meng-implementasikannya?

Hhh.. Naj tau,, pasti sekarang Shab lagi bilang,, “bukan kayak gitu masalahnya,Najj…”

tapi yang terfikirkan oleh Najma saat ini seperti itu Shabb..

Shab tuh harus keluar dari comfort zone.. kalau shab sudah merasa melakukan ini dan itu untuk ilmy,, tepis semua anggapan itu..

jangan cepat merasa puas dan berhasil. bisa saja ini masih berkaitan dengan teori gunung es, mungkin yang selama ini tampak sukses dan teroptimalkan hanya 20%nya saja, sedangkan 80%nya masih bersembunyi di dalam samudra,, samudra hatimu..

buka hati Shabrina.. karena sesungguhnya, bukan mata yang buta.. tetapi hati yang ada di dalam dada..

mungkin mata hati kita tertutup karena banyak hal, terutama karena berkurangnya kedekatan kita dengan-Nya, Rabb pemilik segala..

Keep hamasah yaa ukhtii shalihah..

Da’i yang tidak punya bekalan ruhiyah, akan mengalami kelemahan..

Jika ia merasa sudah berda’wah namun tidak berhasil, ia akan menganggap dirinya sudah tidak layak lagi berda’wah

dan akhirnya berganti arah

-Ustadz Zufar Bawazier,Lc-

Purwokerto-Bandung

21 Mei 2012

1 Rajab  1433 H

Dhiyanajma Eljannah

Advertisements

2 thoughts on “Tinggal pilih : menggantikan atau tergantikan?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s