Berjuang!

Kala itu mungkin itu kali pertama.. Ada janji manis yang terucap dari lisan yang penuh dosa.. Janji untuk menebus semua kelalaian.. Janji untuk membinasakan semua angan-angan..

Kala ini kali kedua.. Masih dengan gombal-gombal manis yang ku lontarkan.. Kali ini ku ikat dengan tombak harapan yang kiranya masih bernaung pada keberuntungan..

Ah, keberutungan?

Adakah?

Itu semua bukan keberuntungan jika kalian tahu..

Itu adalah takdir Allah. Sudah diatur. Jadi jelaslah sudah.

Kala itu yang masih menyongsong pagi dan petang dengan semangat pembaharuan, adalah takdir. Kali ini yang (seharusnya) pun masih menyongsong pagi dan petang dengan semangat pembaharuan, juga takdir.

Lantas, bagian mana yang salah? Continue reading Berjuang!

Advertisements

Cinta Tanpa Definisi…

Seperti angin membadai. Kau tak melihatnya. Kau merasakannya. Merasakan kerjanya saat ia memindahkan gunung pasir di tengah gurun. Atau merangsang amuk gelombang di laut lepas. Atau meluluhlantakkan bangunan-bangunan angkuh di pusat kota metropolitan. Begitulah cinta. Ia ditakdirkan jadi kata tanpa benda. Tak terlihat. Hanya terasa. Tapi dahsyat.

Seperti banjir menderas. Kau tak kuasa mencegahnya. Kau hanya bisa ternganga ketika ia meluapi sungai-sungai, menjamah seluruh permukaan bumi, menyeret semua benda angkuh yang bertahan di hadapannya. Dalam sekejap ia menguasai bumi dan merengkuhnya dalam kelembutannya. Setelah itu ia kembali tenang: seperti seekor harimau kenyang yang terlelap tenang. Demikianlah cinta. Ia ditakdirkan jadi makna paling santun yang menyimpan kekuasaan besar. Continue reading Cinta Tanpa Definisi…