Untukmu, Pabrik Roti-ku..

Agak tersentak kaget juga saat itu ketika tau bahwa SMA 14 Jakarta Timur sedang dalam masa penghancuran (baca: renovasi total).

Iya, itu SMA saya. Itu sudah ada di profil kalau kalian ingat.

SMA saya, yang bahkan ketika memandangnya pun, tidak lebih dari sekedar bangunan Pabrik Roti. Atau juga Pabrik Tahu.

Bukan, bukan karena dulu sempat menjadi Pabrik itu, namun karena bentuk bangunannya yang –entahlah.

Dulu pun, jika kalian mau tau, saya pun sungguh sangat tidak ingin sekolah di sana. Gak mau pake banget!

Tapi ya mau bagaimana lagi, harapan saya untuk sekolah di SMA terbaik nomor satu di DKI sudah pupus. Nilai UN saya hanya bisa masuk ke sekolah Pabrik Roti itu. Eh tapi meskipun begitu, tetap berada di posisi 5 DKI lho.. (bangga).

Sampai pada akhirnya, saya menerima dengan lapang hati takdir saya itu. Dengan helaan nafas yang sangat berat, akhirnya registrasi pun terjadi.

Bersekolah di sana, awalnya sama sekali belum menemukan sesuatu yang bisa saya cintai.

Sampai suatu ketika, saya bertemu dia. Selalu duduk di pojok, dan masih menggunakan seragam sekolahnya dulu, hijau.

Aneh. Benar-benar aneh. Karena dia benar-benar tidak mau bicara kepada siapapun! Perempuan maupun laki-laki.

Beberapa bulan sibuk memperhatikan, akhirnya benih cinta itu tumbuh. Tumbuh semakin besar.

Sampai bertemu dengan benih cinta yang lain. Empat benih cinta. Benih cinta yang tumbuh karena Allah. Bertemu di kelas itu, di kelas itu, dan di kelas itu.

Shabrina, Davi’ah, Mae, Syifa, dan saya sendiri.

Dan… Ajaib!

Mereka semua benar-benar bisa membuat saya jatuh hati bukan main pada sekolah Pabrik Roti itu. Pada Al-Huda, pada malam-malam di Al-Huda, pada perpustakaan Al-Huda, dan tentunya pada mereka semua.

Pabrik Roti itu memiliki kenangan tersendiri dalam kanvas kehidupan kami, khusunya saya.

Namun sekarang, Pabrik Roti itu sudah hancur. Rata dengan tanah.

 

 

 

 

 

 

 

 

Ini adalah gambar ketika Pabrik Roti itu sedang dalam proses penghancuran T.T

Di kelas itu Ya Allah… Banyak banget kenangannya … T.T

Tapi biarlah. Biarlah saya dan teman-teman belajar untuk menyimpan tiap memoar indah itu dalam hati. Biar saja Pabrik Roti itu hancur, dan tentu akan diganti dengan bangunan indah yang akan melegenda pada masanya nanti.

Biarlah saksi bisu itu hancur. Biarlah semua puing-puing itu tergantikan oleh batu bata peradaban yang lebih tersusun kokoh.

Biarlah saya di sini menyimpan kenangan itu.

Karena kenangan itu ada di hati, dan tak akan pernah mati.

Untukmu, Pabrik Roti-ku..

.

Advertisements

4 thoughts on “Untukmu, Pabrik Roti-ku..”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s