Ramadhan, I’m in Love

Bagiku, itu sebuah pembelajaran. Pembelajaran paling istimewa yang dapat saya petik dari Ramadhan teristimewa.

Oke, oke, istimewa itu relatif. Tetapi menurut saya, ini istimewa (titik).

Lagi-lagi saya jatuh cinta..

Bahkan kali ini saya benar-benar terjerembab ke dalamnya dan entah, mungkin saya pun tidak kuasa mengusirnya jauh-jauh.

Bagaimana tidak? Cinta itu sudah berbaik hati mengajarkan pada saya makna sabar.. Juga mengajarkan bagaimana rupa syukur. Dan ternyata sabar dan syukur memang senantiasa bersama. Senantiasa beriringan.

Ah,, Ramadhan kali ini benar-benar menguras (tidak sampai habis) kesabaran saya.. Menghadapi makhluk-makhlukNya yang semakin hari semakin ada-ada saja. Kadang ada, kadang tiada. Mungkin hanya mengada-ada saja.

Ramadhan ini pun mengajarkan saya tentang syukur. Beryukur karena sudah diizinkan menjalin ukhuwah dengan makhluk-makhlukNya yang senantiasa mendatangkan ketentraman hati, keluasan rizqi dan kecerdasan emosi.

Ramadhan ini juga, saya diajarkan oleh malaikat-malaikat kecil tentang sabar dan ikhlas. Sekaligus. Bersamaan.

Keceriaan bersama mereka sungguh bukanlah sejumput rasa biasa, tapi kebahagiaan ini melangit, hingga Allah dan malaikat-Nya pun menyaksikan, mereka lah sang penerus panji kebenaran.

Ramadhan yang istimewa ini, juga mengajarkan saya tentang makna cinta pada Allah. Bagaimana cara meraih cintaNya. Dengan targetan-targetan Ramadhan yang menjulang tinggi. Bahkan sampai saat ini saya belum mampu melampaui batas itu.

Mengajarkan saya, bagaimana cara merengkuh amal yaumi di Ramadhan ini dengan tetap menjaga kualitas ibadah. Menjaga kesehatan jasmani dan rohani, agar tak ada yang menghalangi kita untuk berkhalwat denganNya.

Motivasi luar biasa Ramadhan tahun ini. Mengejar target Ramadhan yang tak kunjung terlampaui. Tetapi tetap bersabar dan bersyukur. Bersabar dan bersyukur.

Optimis dan Optimis. Masih ada cintaNya pada Ramadhan tahun ini. Masih ada dan tetap terus ada. Maka jangan ragu untuk berdoa, karena Ia bahkan malu jika tidak meng-ijabah hamba-Nya yang mengangkat tangannya untuk meminta padaNya.

Ramadhan ini juga mengajarkan saya arti rindu. Merindukan ia, yang seperti sosok Kak Laisa dalam Bidadari-bidadari Surga –Tere Liye. Melindungi, penuh kasih-sayang, juga penyabar. Meski terkadang ia lah satu-satu nya makhluk Allah yang paling panjang lebar berceloteh ketika saya jatuh sakit. Kadang mengalahkan Ibu saya sendiri.

Sosok Kak Laisa itu, teramat sayang dengan adik-adiknya. Bahkan –ia yang saya rindu, sempat berkata (mungkin sambil berkaca-kaca), “seorang kakak tidak akan tega membiarkan adiknya tersayat pisau, meskipun dengan tangannya sendiri.”

Hm.. awal Ramadhan tahun ini banyak rindu yang saya tujukan padamu, Kak! Semoga kelak engkau sungguh akan sadar, bahwa saya, benar-benar rindu padamu.

Rindu yang sama pun, selalu tercurahkan kepada ayah di sana. Yang kadang tersenyum karena bangga pada anaknya.. Yang terus tetap tersenyum, meskipun ada kekecewaan di sana.

Tilawah-tilawah Ramdahan tahun ini, semoga sampai kepadamu, Yah.. Agar kau semakin bercahaya di sana. Ingin sekali memakaikan mahkota di kepalamu kelak.. :’)

Ramadhan tahun ini pun sering mengajarkan cinta. Cinta kepadamu Bunda. Semoga Allah pun mengijabah doa ku untukmu, Bunda. Karena kau indah, bahkan lebih indah dari syurga.

Terimakasih atas sabar dan cintamu. Yang tak pernah habis kau piaskan itu dihatimu untukku.

 

Ramadhan , I’m in Love.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s