Mengenang yang Terkenang..

 

ImageKembali, aku mengingat selaksa peristiwa denganmu. Tak perlu kuingat-pun, kenangan itu tetap melintas begitu saja di pikiranku. Setiap kali melihat album foto, melihat baju, bahkan hanya melihat bekas goresan tanganmu 5 tahun lalu. Semua itu selalu mengingatkanku. Akan semua yang terbaik, yang selalu kau lakukan untukku.

Mengenangmu adalah kegembiraan. Bagimana tidak? Sudah 5 tahun kita tidak berjumpa. Tidak bersua. Namun aku berhasil menggoreskan wajahmu di benakku. Mengenangmu juga terkadang merupakan suatu kesedihan. Ketika aku berhasil menangkap wajah tirusmu yang kian hari kian melemah. Namun belum bisa aku banggakanmu.

Aku bersyukur karena selama belasan tahun itu, aku mendapat kasih sayang tak terkira dari manusia penyayang sepertimu. Meskipun, kau selalu punya cara sendiri untuk membuktikan cintanya padaku. Tapi aku tidak mau tau. Dibuktikan atau tidak, aku tau kau mencintaiku. Lihat saja dari seberapa keras kau bekerja hanya untuk menamatkan jenjang pendidikanku sampai akhir. Lihat saja dari untaian doa yang selalu kau panjatkan disisi Rabb-mu. Lihat saja dari betapa khawatirnya dirimu ketika aku terserang flu. Padahal hanya flu. Tapi kau memperhatikan aku bak ratu.

Aku masih mengingatnya dengan jelas. Ketika aku masih kecil dulu, kau selalu merasa senang jika mendapati aku tertidur di ruang tv karena menunggumu pulang. Lalu kau membopong tubuhku, karena aku memang hanya mau digendong oleh mu.

Jika ada tugas mengerjakan puisi, pantun, atau tugas-tugas apapun yang kiranya tak bisa aku lakukan, aku pasti akan dengan senang hati memintamu membantuku. Tetapi kau sering pulang larut. Dan aku sudah tidak sanggup menahan bola mata untuk tetap terjaga. Akhirnya, aku sering menuliskan pesan di meja telefon, “Pah, bantuin kerjain ini yah… :)”

Paginya, pasti pekerjaan rumah itu sudah beres. Namun pagi itu juga sering aku dapati ia telah bergegas bekerja. Ia memang sibuk. Namun, ia lah orang pertama yang akan dengan lembut menanyakan bagaimana kabarku, meskipun hanya lewat sms atau telepon..

Aku merindukanmu. Sungguh.

Saat itu kau pergi ke Bogor. Kota paling menyenangkan saat itu. Keluarga kami sangat suka pergi ke sana. Terutama aku. Namun siang itu, aku dibiarkan tertidur pulas di dalam kamar. Ia, mamah, dan adikku pergi ke Bogor.

Aku sempat menangis saat itu. Kenapa aku tidak diajak. Padahal mereka hanya tidak ingin membangunkanku. Kan nanti bisa jalan-jalan lagi. Itu kata mamah.

Tapi ternyata sudah tidak ada lagi kata esok.

Itu adalah hari terakhir ia melihat mentari.

Dan itu adalah hari terakhir aku melihat pelangi.

Selepas maghrib, kau masih sibuk bertanya tentang nilai raport-ku, tentang nilai UN-ku. Tentang apa-pun yang berkaitan denganku. Sungguh, hanya aku.

Selepas isya, kau berkata ingin istirahat. Kami pun dengan senang hati mengiyakan. Kami tau, kau terlau lelah hari ini.

08.30 pm

Mamah dan adikku yang masih berumur 4 tahun ingin bergegas tidur, karena mereka juga cukup lelah. Akhirnya mamah menggendong adikku untuk masuk ke kamar.

“Innalillahi papaaaaah…..”

DEG.

Mamah histeris mendapati tubuh papah telah terbujur kaku di atas kasur. Mamah masih menangis saat aku diminta kakak-ku untuk memberitahukan keluarga;karena aku yang paling stabil saat itu.

Dan dua kata yang paling sulit kuucap selama aku hidup. Dua kata yang memaksaku mengucapkannya. Dua kata itu adalah… “Papah…..me-ning-gal….”

Lalu bulir air mata pun jatuh mengenai pipi.

Air mata itu adalah air mata kehilangan. Seorang anak yang selalu hanya bisa bercengkrama dengan papahnya. Seorang anak yang hanya mau pergi dengan papahnya. Kini harus rela melepasnya. Melepas selamanya. Untuk menghadap Sang Pemberi Kehidupan.

26 Mei 2007.

Hari terakhir aku bisa menatap wajah penuh cintamu. Hari terkahir aku menggenggam tanganmu. Hari terkahir aku bisa menciummu. Hari terakhir aku berkata,”aku mencintaimu..”

Pah.. Kini aku sudah dewasa.. Sudah beranjak shalihah dan cantik seperti harapmu. Meski terlampau banyak yang belum terbayarkan, aku berjanji.. Aku berjanji, Pah.. Suatu hari nanti aku pasti bisa membuat Mamah, adik, dan kakak tersenyum bangga. Seperti ketika kau bangga memiliki anak sepertiku..

Pah,, yakinlah dengan apa yang akan aku katakan.

Aku mencintaimu, Pah.. Aku mencintaimu… Seperti aku mencintai syurga…

Cintaku tak akan tergadaikan oleh waktu. Tak akan pernah berubah dimakan usia.

Kau tak akan pernah terganti, Pah.. Tidak akan pernah.

 

 

Anakmu, yang selalu merindukan senyum dan tatapan mata itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s