Saraf yang Terputus

Kalau saya boleh membuka dan mengeluarkan isi otak saya, ini jelas ada penindasan di dalam nya. Pasti, saraf-saraf yang membuat saya seharusnya mengingkan makan, atau tidur, atau bersantai itu sudah secara sengaja diputus oleh pihak lain yang tidak bertanggung jawab.

Hm.. Atau memang saya sendiri dengan sugesti saya sendiri yang memutus saraf itu? 

Atau memang, ia sudah tak lagi benar-benar mau menempati sistem saraf itu sehingga beralih profesi membantu saraf lain menjalankan tugasnya?

Maklum, akhir-akhir ini,, keinginan untuk makan,tidur,dan bersantai itu memang sudah seperti mencuci sepatu. Bisa dihitung seminggu berapa kali menyuap nasi, berapa kali memejamkan mata dengan tenang,dan bersantai ria sambil minum teh serta membaca kisah lelaki pengeja hujan..

Benar-benar terhitung!

Lalu, saraf-saraf itu bersatu padu untuk membenahi dan membantu saraf lain dalam memikirkan berbagai permasalahan yang ada..

Ya ampun,, baik banget kan dia.. (terharu)

Sampai lupa bahwa ada kewajiban menyuap nasi, memejamkan mata, dan bersantai ria..

Ah, dua agenda itu kadang benar-benar menguras habis seluruh energi.. Harus ekstra sabar menghadapi orang-orang di dalamnya. Ekstra keras dalam berpikir. Ekstra lembut dalam berinteraksi.

Semua nya benar-benar memaksa saya untuk menyeimbangkan semuanya! Dikira saya bisa menghandle semuanya.. Emang nya saya malaikat bersayap satu? -,-

Sadar dan menyadarkan aja lah ya.. Ini nggak akan jalan kalau semua nya menggantungkan semangat pada ego masing-masing.. Sekali kecewa sama saudara nya, mutung tak terkira.

Ah, apa sih? Dakwah itu bukan hanya tentang pesanan makanan yang tak sesuai dengan keinginan. Bukan tentang sms yang jarang di balas.

Tapi dakwah adalah cinta. Yang membuat kita semakin memikirkannya meskipun kita benar-benar sedang tidak ingin memikirkannya. Disaat tidur kita, duduk, atau saat kita berdiri. Semua menguras habis energi kita untuk memikirkan yang dicinta.

Cinta adalah doa. Karena hanya dengan doa, semua benci menjadi cinta. Semua keraguan pada saudara sirna. Semua angan semua menjadi nyata.

Dan karena doa adalah muara atas segala rasa. Tempat kita mencurahkan segala isi jiwa. Menuangkan segala rasa.

Duhai Rabb.. Jika kata sudah tak dapat memiliki rasa, maka saya masih punya doa. Yang saya yakin, akan mempertemukan kita dalam gerbang syurga.

Esok lusa, kau pasti mengerti tentang arti tulisan ini. Mengerti, mengapa saya bicara pesanan makanan. Mengerti tentang dua agenda yang saya bicarakan. Tentang semuanya.

Ah, sudah adzan subuh..

Saatnya berhenti menulis. Mari sholat lalu membaca kitab cinta.

 

^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s