Hadiah Istimewa

Subhanallah.. Walhamdulillah..

Hari ini tepat 20 tahun saya melangkahkan kaki di bumi. Ucap syukurku padaMu Rabb. Yang tak henti-hentinya memberikan berbagai kebahagiaan dan kenikmatan. Nikmat dan bahagia karena dapat mengenalMu.. Mengenal Islam, Iman, dan Ihsan.

Pada duapuluh tahun pertama ini, sepertinya tidak jauh berbeda dengan kondisi 5 tahun yang lalu. Ya, sejak 5 tahun yang lalu, saya kehilangan pengingat milad paling bersahaja. Saya kehilangan pemberi hadiah paling istimewa. (Semoga Allah melindungimu, pah..)

Yup, saya kehilangan beliau. Sudah lebih dari 5 tahun. Ah, jelas saja saya merindukannya. Merindukan ia yang pagi subuh sudah mengetuk-ngetuk pintu kamar agar saya segera bangun dan menikmati cengkrama dengan Rabb pemilik jiwa. Lalu ia sibuk membujuk saya agar cepat mandi lalu berangkat ke sekolah. Membujuk lagi dan kadang sambil menyuapkan nasi agar ia sendiri yang memastikan bahwa putri tercintanya sudah memasukkan beberapa butir nasi ke perut nya.

Ah, benar-benar saya rindukan masa itu.

Tetapi ia bukan sosok yang secara langsung mengucapkan,”met milad ya anakku shalihah.. blablabla”

atau bukan juga,”selamat ulang tahun, sayaaaang…”

pun bukan tipe,”happy bornday, nak.. papah loves you..”

Ah, no no no.. beliau bukan tipikal pria gagah yang seperti itu..

Jika saat seperti ini datang, kadang ia hanya tersenyum lama menatap saya, seolah saya lah sang penerus takhta. #eaa..

Atau kadang, ia hanya bertanya kabar  saya pagi itu lantas beranjak pergi bekerja.

Atau terkadang ia bertanya, “lagi mau apa,pi?”

Hm.. Yang paling membekas itu saat beliau sedang sibuk bekerja lalu tiba-tiba teringat bahwa anaknya milad, lantas beliau langsung sibuk mencari hadiah istimewa menurutnya lantas dibawanya pulang.. tidak peduli saat itu jam kerja sudah berakhir atau belum.

Lalu ia pulang, membawa sebungkus kado berbentuk kotak..

“Maaf ya nak.. Papah hanya bisa memberikan ini..” katanya sambil menyerahkan kotak itu..

Menurut papah, itulah hadiah istimewa yang pernah ia berikan. Tau kenapa? Karena setau papah, anak putri nya sedang sangat ingin memiliki benda itu.

Padahal, hadiah istimewa itu sudah ada di depan mata putrinya. Sedang bercengkrama dengannya. Sedang terihat letih bekerja. Dengan mata sayu penuh cinta.

Kau lah hadiah istimewa itu, Pah.. :’)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s