Last…

dan pada akhirnya, aku yang harus terus menerus mengalah. mengalah pada keadaan. mengalah pada tiap ego dan keinginan.

dan pada akhirnya, aku yang terus menerus kalah. kalah dengan keadaan. kalah dengan tiap ego dan keinginan.

ini sulit. benar-benar sulit. bukan sekali dua aku merasakan hal seperti ini.

haruskah ia ku sebut bunga, pelangi, hujan, coklat, atau mungkin es krim?

ataukah aku harus sebut ia panas, petir, badai, serangga, atau mungkin gelap?

tak bisakah aku berjuang sendiri?

melawan segenap sakit itu sendiri?

tak bisakah?

mengapa pula harus kulibatkan ia pada akhir november ini?

ah jadi ingat. sudah lama aku tak menyapamu november. bagaimana keadaanmu kali ini?

jika november ini benar-benar harus berakhir, lantas apa yang dapat kita harapkan padanya, november? apa?

November #3

(masih) mencari jawaban atas ribuan pertanyaan yang entah datang dari mana. masih (berusaha) mencari jawaban terbaik dari yang terbaik. menentukan faktor ini dan itu yang memungkinkan untuk menjadi jawaban atau tidak sama sekali.

lantas, harus dimulai dari mana pencarian itu?

dari langit? atau dari bumi?

ah, yang jelas, jawaban itu, saat ini, jelas sudah ada di dalam hati. jika memang jiwa mu putih dan hatimu bersih, tentulah jawaban itu akan dengan senang hati muncul di permukaan lalu dengan tegas menunjukkan dirinya.

mungkin kali ini,surfaktan yang telah tersedia, belum sempat ber-agregat, belum sempat membentuk misel, sehingga belum turun juga tegangan permukaannya. sehingga belum terangkat kotoran-kotorannya ke permukaan. sehingga (lagi), belum dapat tergambarkan, akan seperti apa jawaban sesungguhnya.

ah, lagi-lagi, harus kata-kata super aneh yang tertulis.

kali ini, aku benar-benar sedang berada di ambang, berada di antara dua jurang kejam yang memisahkan.

kadang, aku merasa sedang sangat berdamai dengan hati, hingga ia berbaik hati menunjukkan jawabannya. tapi sering kali, ia malas menanggapi gadis kecil ini bertanya ini itu. lebih baik ia diam saja dan melanjutkan kerjanya (?)

entahlah..entahlah…

di bulan ini, untuk yang ke-sekian kalinya, aku merasa diriku aneh. aneh-se-aneh-aneh-nya.  Continue reading November #3

November #2

kalau saja aku bisa melukiskan apapun yang ingin aku lukiskan di langit, aku pasti sudah melakukannya sejak awal. entah lukisan itu akan berbentuk bunga, pelangi, cokelat, atau mungkin es krim. aku pasti akan melukiskannya.

yah, tapi mungkin aku masih memiliki keterbatasan itu dan ini untuk bisa melakukannya. lagian, manusia hebat mana yang bisa naik ke langit, lalu menggambar langit?

baiklah. itu hanya sebuah kata-kata kiasan. maksudnya, aku benar-benar ingin melukiskan berbagai perasaan yang hinggap dalam hati. sering sedih, sedikit bahagia, setengah tawa. perasaan itu benar adanya, dan kadang aku hanya ingin bisa melukiskannya. tak peduli orang lain akan menertawakan atau bahkan mengejek. Continue reading November #2

menangis.

kau tau apa itu air mata? sesuatu yang berbentuk cair (jelas bukan solid), dan berasa asin. emangnya asin? iya, asin. coba aja tanya sama anak kecil. mereka–eh aku juga ding–, kalau nangis, pasti suka masuk tuh air matanya ke dalam mulut. trus jadinya kita bisa ngerasain air mata kita. dan bener, rasanya memang asin.

tenaaang, aku bukan mau ngejelasin tentang struktur air mata kok. haha. lagian ngapain juga.

aku cuma mau bilang, selain ber-rasa asin, air mata juga memiliki rasa yang lain. kau tau apa itu? rasa air mata yang lain adalah, rasa ‘mbayar’. haha.

eh jangan-jangan pada ngga tau maksud nya rasa ‘mbayar’? rasa ‘mbayar’ itu maksudnya ngga usah bayar. yups. nangis itu emang ngga usah bayar. lagian siapa juga yang mau ngoleksi air mata kamu? kalau air mata nya bisa berubah jadi mutiara sih aku koleksi deh. heheh.. Continue reading menangis.