sotoycubic–

Jika ada deretan hari terkonyol se-dunia, maka dengan mantap saya akan mengajukan hari ini, hari Jumat ini kepada pihak yang bersangkutan sebagai hari yang cukup konyol bagi saya, dan tentunya bagi mereka yang mengerti *huks.

Hari ini, seperti biasa, karena sedang musimnya ujian akhir, kampus saya pun ngga mau kalah beken dari kampus lain. Maka kampus saya juga ikut serta merayakan pesta ujian akhir. Tidak lupa diiringi musik orcestra untuk menambah kemegahan ujian kami. Yep! Ujian anak mip* memang selalu indah dan penuh dengan pesona. Selepas ujian, anak-anak mip* pasti akan mendapatkan ribuan caci dari dalam dirinya sendiri, atau bertepuk bangga dengan dirinya sendiri, atau memamah biak es krim dengan sangat bijak, atau melakukan apapun yang kiranya itu seperti merayakan. Padahal, apapula yang bisa dirayakan -_-

Nah, pagi ini, saya mendapatkan jadwal ujian elektrometri. Well sebenernya ujian ini termasuk salah satu yang ditunggu. Karena, bukan sedikit soal ujian yang hampir sama dengan soal tugas atau quis, jadi yaa kami (anak mip*-red.) bisa sedikit mencium aroma surgA (huruf A sengaja dibuat besAr).

Tapi sepertinya pagi ini, saya tidak mendengar nyanyian burung yang memang biasanya juga tak terdengar. Pun saya tidak mendengar rengekkan kucing yang sebenarnya juga saya acuhkan. Pagi ini pula, langit terlihat damai. Terlihat cantik, berwarna ungu, anggun, dan indah *eaa.

Mungkin karena saya kelewat santai. Jam delapan sampai sembilan kurang sekian itu saya masih asik dengan meysi (laptop saya). Masih melakukan kebiasaan nya (blog walking), dan masih meracau sebuah racauan yang sungguh sangat tidak layak untuk didengar semut-semut yang ada di kamar saya.

Jam sembilan lewat itu saya baru mandi, dan masih sempet nyuci. Well, sebenernya, eumm saya itu akan lebih memilih untuk menggunakan jasa laundry. Tau kenapa? Karena dengan jasa ibu-ibu laundry yang baik hati dan tidak sombong itu, saya bisa dengan leluasa menghadiri rapat-rapat, menemani teman, atau sekedar menikmati keluangan waktu (menulis dan blog walking). Nah, kalau saya menghabiskan sekian menit saya dari sekian jam untuk mencuci, menjemur, mengangkat pakaian, dan menyetrika, akan hilanglah waktu saya untuk ini itu. Haha, alasan banget!

Hm tapi akhir-akhir ini saya sedang rajin mencuci, menjemur, dan mengangkat pakaian. Tapi tidak untuk menyetrika. Entah kenapa, saya belum menemukan esensi yang anggun dari menyetrika. Well, sebenernya, nyetrika emang jauh lebih sulit dan berat dibandingin nyuci, jemur, sama angkat baju. Makannya, saya laundry nyetrika. Dan saya cukup kaget dan runtuh tiba-tiba ketika mendapati harga perkilo dari hanya nyetrika saja itu adalah sebesar 1700 rupiah. Artinya, harga untuk mencuci itu sebesar 500 rupiah. Angka yang cukup fantastis bukan? Konklusi yang didapatkan oleh diri saya pribadi adalah, mendingan nyuci + setrika sekalian di laundry dari pada setengah-setengah tapi harga nya gak setengah setengah -,-

Ah ya, itulah pikiran ekonomis dari seorang mahasiswi semester 5 yang masih mencari jatidiri.

Nah kan, pasti kemana mana. Oke, lanjut ya. Akhirnya saya baru selesai mandi dan mencuci itu sekitar pukul setengah sepuluh. Dan karena saya ujian jam 10.10, akhirnya saya langsung buru-buru rapih rapih untuk segera berangkat.

09.35

Saya nyamperin kamar nya si panci, ngajak langsung ke kampus. Oya, pagi nya itu dia sempet beliin nasi buat sarapan, tapi kayaknya saya lagi bener-bener ngga nafsu makan. Padahal ini elektro loh.. Ini elektro..

Eh ternyata dia nya belum siap-siap. Alhasil, nunggulah sampe dia siap, dan jam 10.00 kami bersiap menuju kampus.

Well, baru kali ini kami melihat kampus kami sepi. Kan biasanya sepiii sekalii. Nah itu yang aneh. Biasanya, anak-anak kelas kami itu rame nya kedengeran sampe parkiran paling ujung. Tapi kali ini tidak. Mereka hening, se hening heningnya.

Ruang 2.2

“Udah masuk apa ya Naj?”

“Hm, belum. Mereka pada belum dateng kali.” (Padahal itu udah jam 10.05, dan adalah ngga mungkin kalau temen-temen pada belum dateng). Sebenernya agak was was juga sih denger kesunyian itu.

Sesampainya di depan pintu,,

“Loh, kok Hendgun udah pegang soal?”

Kemudian kami semakin mendekat dan mendekat pada daun pintu. Dan taraaaaaaa!!!!

Ruangan sudah penuh. Ujian sudah mulai. Sejak 45 menit yang lalu.

Huwaaaa.. Dan ekspresi saya mungkin sudah seperti seekor kucing yang hendak melahirkan tapi bidan belum dateng. Atau seperti kucing yang terjerat tali yang membawanya tersangkut pohon setinggi 10 meter. Atau seperti kucing yang *arghr* entahlah seperti kucing yang apa. Mungkin seperti kucing yang bulu tubuhnya mendadak harus dikriting untuk keperluan perfilman perkucingan Indonesia. *apasih makin ga nyambung* (lagian kenapa pula harus kucing) -,-

Oke, langsung cari tempat duduk paling PeWe, padahal tempat duduk saya adalah selalu yang paling tengah. Paling mentereng. Paling keliatan kekerenannya.

Fiuh untung cuma tujuh soal. Apah? Untuuung??

Dari tujuh soal itu, 3 soal teori, 4 soal hitungan. Wew. Sesuatu banget. Soal hitungannya persis kayak soal quis dan tugas. Soal teori nya, salah satunya adalah yang berulang kali saya hafal semalam terakhir. Dan dua soal teori lainnya, mengarang bebas penuh arti.

Dan Alhamdulillah nyaa, saya termasuk salah satu anak perempuan keren dengan gaya menulis cepat. He’em, untung frekuensi menulis saya jauh lebih cepat daripada frekuensi jalannya semut sampai ke titik x=2. Makannya, saya berhasil mengejar ketertinggalan saya yang ketika itu, teman-teman sudah hampir satu setengah halaman ngisi nya (huwa, sedih).

Ya tapi itu.. Alhamdulillah, baik sekali Allah yang sudah memberikan ilham berupa kesotoyan saya akan soal-soal yang keluar tadi pagi.

Dan setelah ujian selesai, saya masih saja mengutuki kekonyolan dan kesotoyan saya. Sembari dikelilingi oleh teman-teman yang prihatin dengan kondisi saya dan panci yang hampir mengenaskan.

Dan saya pun bersenang hati menceritakan kekonyolan saya tadi pagi.

“Jadi tuh, aku ingetnya kita ujian jam 10.10 di ruang 2.2. Nah, bener kan ruangannya. Yaampun padahal itu jadwal ujian udah aku tulis di papan tulis, aku paku depan pintu supaya tiap keluar masuk kamar ngeliat. Tapi kenyataannya berkata lain. Aku salah liat jadwal. Aku liatnya jadwal biokim hari senin jam 10.10. Dan aku dengan tegasnya ngomong ke panci kalo kita ujian jam 10.10.Padahal sebelumnya panci udah ngomomg, bukannya ujian nya jam 09.20 ya?”

“Dan itulah kebodohan terbesar kami. Yang satu sotoy tiada ampun, yang satu pasrah ampun-ampunan. Huwaaaa… Rasanya aneh banget baru mulai ujian 45 menit setelah temen-temen ngerjain ujian. rasanya pengen ngulangin waktunya lagi. Kan tadi aku udah mau berangkat tuh jam setengah sepuluh.. huks.”

“Ah tapi mungkin emang Allah mau memberikan aku sedikit bumbu pagi ini, supaya lebih teliti, lebih disiplin, dan lebih diatur kesotoyannya..”

Yak, kira-kira begitulah cerita antara saya dan si kesotoyan -_-

Well,saya hanya berharap, nilai nya dapat merasakan aroma surgA (huruf A sengaja dibuat besAr)

😀

Advertisements

4 thoughts on “sotoycubic–”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s