Kartini : Masa Lalu dan Masa Kini

Kartini. Sesosok wanita penuh inspirasi yang dilahirkan dari rahim seorang bangsawan. Kepemilikan cita atas diri dan bangsa membuatnya tak berhenti berpikir mencari berbagai cara untuk bisa membuat mimpinya mengangkasa. Sebuah aturan adat yang tidak memperbolehkan wanita pada zamannya mengenyam pendidikan, tidak membuatnya putus asa untuk mendapatkan ilmu. Setelah lulus dari Sekolah Dasar, ia dipingit oleh orang tuanya untuk kemudian menunggu waktu untuk dinikahkan. Begitulah adatnya. Seorang wanita hanya bekerja di dapur, mengurus anak dan suami. Tidak boleh berpendidikan tinggi.

Sesuai pemikiran adat istiadat zaman itu adalah, hanya para lelaki yang boleh berpendidikan tinggi, wanita tidak. Karena wanita hanya memiliki porsi yang sedikit dalam rumahtangga. Namun kenyataannya tidak begitu. Pewarisan sifat kecerdasan seorang anak tidak hanya dipengaruhi oleh ayahnya, namun juga ibunya. Bahkan cenderung lebih banyak dipengaruhi oleh ibunya, sehingga Kartini menilai bahwa seorang wanita sangat memerlukan pendidikan tinggi seperti layaknya seorang lelaki.

Berangkat dari prinsip itulah, kemudian Kartini mulai sering membaca buku, menulis surat kepada teman-temannya di Belanda dan Eropa, bahkan sempat ia mengirimkan surat pada Abendanon; sahabatnya yang berada di negeri kincir angin, untuk meminta beasiswa agar Kartini dapat belajar di negeri itu.

Kartini sangat menjunjung tinggi nilai-nilai pendidikan. Wanita, menurutnya, memiliki hak yang sama untuk dapat mengenyam bangku pendidikan. Dari latar belakang tersebut, sudah jelaslah bahwa arah perjuangan Kartini adalah memajukan pendidikan kaum wanita. Bukan berarti Kartini menganggap rendah pekerjaan rumahtangga yang dilakukan kaum wanita, justru, karena aturan-aturan ke-rumahtanggaan itu tidak semata-mata pekerjaan teknis saja, namun juga strategis.

Kemudian, muncullah isu-isu emansipasi yang digulirkan oleh Kartini saat itu. Emansipasi yang dimaksud oleh Kartini adalah agar wanita mendapatkan hak untuk mendapat pendidikan setinggi-tingginya. Agar tidak ada lagi wanita yang direndahkan derajatnya di hadapan para lelaki. Dan agar wanita diakui kecerdasannya serta diberikan porsi yang sama untuk dapat mengaplikasikan ilmunya.

Namun, pada masa sekarang ini, arti emansipasi yang sesungguhnya sudah mulai terkikis oleh kemajuan zaman. Wanita-wanita Indonesia sendiri mulai tidak mengerti dengan arti emansipasi, hingga hilang semua martabat, hingga amblas semua asas.

Kontes ratu kecantikan, RUU KKG, dan berbagai ’emansipasi-emansipasi’ modern yang sangat jauh dari nilai emansipasi yang sesungguhnya. Mungkin, inilah saatnya. Redefinisi emansipasi. Agar kita, sebagai perempuan Indonesia, tau betul mengapa Kartini sangat berjuang untuk adanya emansipasi wanita.

Kemudian pertanyaannya, kenapa harus hari Kartini yang diperingati? Kenapa tidak Cut Nyak Dien? Kenapa tidak Laksamana Kemalahayati? Andai saja, Cut Nyak Dien menjadi lirik lagu “Ibu kita Cut Nyak Dien.. Putri Sejati…”, mungkin saat ini tak ada lagi Gerakan Aceh Merdeka. Padahal, Cut Nyak Dien ikut berperang bersama kaum adam pada masanya, dengan senjata. Lantas mengapa bukan Laksamana Kemalahayati yang diperingati hari lahirnya? Padahal, Laksamana Kemalahayati merupakan salah satu dari wanita paling berani saat zaman penjajahan itu. Cournelis De Houtman mati di tangan wanita perkasa itu di atas kapal sang Kolonel. Tangkas dan Pemberani. Lantas mengapa harus Kartini?

Padahal, Kartini hanyalah anak dari seorang bangsawan yang harus dipingit untuk dinikahkan, tidak boleh mengenyam pendidikan. Hanya satu yang ia perjuangkan : kesetaraan hak antara wanita dan lelaki dalam hal pendidikan.

Hanya itu. Tapi mari sama-sama kita lihat prosesnya. Bagaimana sampai akhirnya, kumpulan suratnya pada sahabatnya Abendanon, dijadikan sebuah buku yang berjudul “Door Duisternis tot Licht”, yang artinya “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Bagaimana sampai akhirnya, penjajahlah yang mendirikan Kartini Fond, dan menerbitkan buku kumpulan surat Kartini itu, di Belanda dan bukan di Indonesia.

Itu point pentingnya. Kenapa kemudian kita memilih Kartini untuk diperingati hari kelahirannya, karena itu. Karena Kartini menulis. Karena Kartini menulis. Cut Nyak Dien memang hebat. Ia sangat tegas terhadap kaum penjajah sehingga  meskipun ia wanita, ia ikut berperang bersama kaum lelaki. Tapi ia tidak menulis seperti yang dilakukan Kartini. Kemudian, Laksamana Kemalahayati. Wanita yang tangkas dan pemberani; yang telah membunuh Cournelis De Houtman di atas kapal sang kolonel. Bukankah bangga Indonesia memiliki ratu aceh seperti dirinya? Lantas mengapa bukan Ia? Sama, alasannya. Karena Laksamana Kemalahayati tidak menulis. Berbeda dengan yang dilakukan Kartini.

Lalu mengapa hanya dengan menulis, Kartini menjadi sosok yang diperingati satu tahun sekali?

Karena membaca akan membuatmu melihat dunia, sedangkan menulis, akan membuat dunia melihatmu.

Kartini membaca dan menulis, untuk memajukan kaumnya, wanita, bangsa Indonesia.

Selamat Hari Kartini! Bangkit Perempuan Indonesia!

 

Dhiyanajma Eljannah

Staff Kementerian Advokasi dan Kajian Kebijakan Kampus BEM UNSOED 2013

PJ Forum Perempuan BEM SI Chapter UNSOED

#FPBEMSI #KARTINI

21 April 2013

00:45

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s