terima-kasih, pak! :)

penjaga keretasemalam, saat sedang “serius” belajar biokimia-fisik, tiba-tiba seperti biasa saya meracau. kali ini saya tiba-tiba meracau tentang seorang penjaga pintu kereta api dimanapun mereka berada *semoga Allah memberikan keberkahan bagi mereka. 

saya tiba-tiba berimajinasi secara liar membahana (?). bagaimana jika penjaga pintu kereta api itu justru asik OL, facebook-an dan twitter-an, atau melakukan berbagai pekerjaan seronoh (?) lainnya; dan bukannya malah serius menatap layar yang ada pada ruang kerjanya yang kecil dan sempit serta menatap ke kejauhan; adakah kereta datang mendekat?

bagaimana jika penjaga pintu kereta api itu justru asik makan gorengan dan minum kopi sambil membaca sebuah komik di tangan kirinya sambil tertawa terbahak-bahak?

bagaimana jika bapak penjaga pintu kereta api itu kebelet *pu–*, apakah hajatnya yang akan ditunaikan, atau lebih mementingkan sang ular besi?

nah, mari disini kita belajar. kita akan sama-sama belajar.

betapa mulianya tugas seorang penjaga pintu kereta api. tetap pada keistiqomahannya menatap layar-layar di ruang kerja nya yang sempit, tetap menatap ke kejauhan barangkali ada kereta yang datang tanpa komando, tetap berjaga meski ia bukan hanya sesekali merasa jenuh, dan tetap tersenyum meski semua yang lewat berlalu lalang tak sedikitpun berucap “terima-kasih”.

nah, mari kita sama-sama bayangkan. berapa banyak kita mengucapkan kata “terima-kasih” kepada dosen hebat yang sudah mau menjadi penasihat terbaik kita misalnya? pasti banyak bukan? pasti, dengan embel-embel yang didramatisir pula. selanjutnya, berapa banyak kita mengucapkan kata “terima-kasih” pada tukang bakso yang kita beli baksonya? mulai terlihat jarang? atau justru tukang bakso nya yang berucap terimakasih pada kita? bukankah kita sama-sama melakukan simbiosis mutualisme? mengapa tidak keduanya sama–sama berucap terimakasih? berapa banyak kita berucap “terima-kasih” kepada tukang sampah yang telah mengambil sampahnya dari rumah kita agar tetap terlihat bersih, meskipun dirinya terlihat kumal, dan kita tidak peduli bukan dengan penampilannya? berapa sering kita mengucapkan terimakasih padanya? apakah justru kita hanya menatapnya dengan memicingkan mata? atau justru sama sekali tak mau melihatnya? dan yang terakhir, berapa banyak kita sudah mengucapkan “terima-kasih” kepada penjaga pintu kereta api? yang dengannya, kita bisa merasa aman melewati rel kereta api di jalan-jalan, yang dengannya, paling tidak, kita tidak usah repot-repot melihat ke kanan ke kiri –seperti orang mau menyebrang jalan– untuk menyebrangi rel kereta api, yang dengannya, kita terlindungi dari bahaya melewati rel tanpa pintu kereta api. lantas, sudah pernah kah kita berucap “terima-kasih” pada penjaga kereta api tersebut?

bukan berarti penjaga pintu kereta api itu haus akan rasa terimakasih. tidak sama sekali. toh kalian lihat, betapa banyak senyum yang disunggingkan meski tak ada satupun kalimat terimakasih yang ia dengar dari para pengendara yang melewati rel kereta api tersebut.

tapi, taukah kau? bahwa ucapan “terima-kasih” itu akan membawa seseorang merasa bahwa ia adalah manusia yang berjasa..berjasa dengan keselamatan nyawa orang banyak..

ucapan terimakasih dengan senyum riang akan sangat menambah motivasi bagi pendengarnya. siapapun itu. termasuk penjaga pintu kereta api.

aduhai, bapak penjaga pintu kerta api, terimakasih atas jasa-jasa kalian yang begitu besar. terima-kasih. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s