Bumi Cinta

Cinta adalah Azzam, Kesungguhan yang Berani dan Keberanian yang sungguh-sungguh, seperti Ibrahim alaihissalam yang terancam hendak dilemparkan ke dalam api, namun tetap enggan bergeser dari ketauhidanya, hingga turunlah perintah Allah kepada api: ‘Jadilah sejuk untuk Ibrahim..’

Cinta adalah Iman, sebuah keyakinan yang mendahului pembuktian, seperti Hajar Istri Ibrahim yang rela ditinggal di tengah gurun berdua dengan Ismail kecil. Dalam ketaatan yang luhur ia berucap yang menerangkan segala keluhuranya: “Jika ini kehendak Allah, maka Ia tak kan menyia-nyiakan kami..”

Cinta adalah Pertanyaan cerdik tanpa Jawaban, dan sebuah Jawaban cemerlang tanpa Pertanyaan, seperti Ismail alaihissalam yang mendengar Ayahnya bermimpi bahwa Allah memerintahkan menyembelihnya..tanpa diminta ia sambut seruan cinta itu: ‘Lakukanlah Ayah, jika memang Allah menyuruh demikian..’

Cinta adalah Bahasa hati yang lebih cepat dimengerti jiwa, dan Gelagat jiwa yang lebih terang dari kata-kata, seperti Khadijah Ummul Mukminin yang tak perlu bertanya panjang mendapati Suaminya datang penuh keringat, tegang, dan menggigil.. cukup menyelimuti dan memberikan kehangatan, setelah Wahyu pertama kali diturunkan pada Sang Suami. Ia berkata lembut penuh penguatan: “Sungguh Allah tidak akan menghinakanmu..”

Cinta adalah Pengharapan tak berpenghujung dan Pangkal segala cabang Harapan. Seperti Rasulullah Muhammad  yang mencegah Malaikat Jibril menimpakan Gunung pada penduduk Thaif, yang sebelumnya menyiksa Beliau, seraya berkata, “Jangan wahai Jibril..jikapun hari ini mereka mengingkariku..semoga di masa datang generasi dari sulbi mereka menaati Risalahku”

Cinta adalah Kesediaan membagi keriangan Hati, seperti Aisyah dan Rasululullah yang berlomba lari dengan riangnya, di suatu waktu Aisyah yang menang, di kala lain Rasulullah mengalahkan. Berkata Aisyah sembari mengenang keriangan itu: ‘dulu selagi muda dan lincah, aku mengalahkan Beliau, sekarang saat aku sudah gemuk, Beliau mengalahkanku..’

Cinta adalah Kerelaan dalam Keluhuran Maknanya, seperti Salman Al-Farissi yang memberikan mahar dan persiapan walimahanya, kepada Abu Darda, sahabat yang mengantarkanya saat melamar, namun justru lebih dipilih oleh wanita yang hendak ia pinang

Cinta adalah Kesabaran dalam Batas-batas yang tak Berbatas, seperti Bilal bin Rabbah yang bertahan cukup dengan teriakan: “Ahad (Allah Yang Esa)!” ..meski cambuk mendera tubuhnya berkali-kali, di tengah padang gersang, bertindihkan  batu hitam panas yang melelehkan

Cinta adalah Ketenteraman dalam syahdu dan Kesyahduan yang menentramkan, saat keduanya melarikan diri dan bersembunyi dalam gua, lalu Sang Rasul mulia berbisik pada Abu Bakar, “Janganlah bersedih, sungguh Allah bersama kita..”

Cinta adalah kebeningan hati dalam tangkup ukhuwah, saat Rasulullah wafat, Abu Bakar Sahabat yang paling mencintainya justru yang pertama kali tersadar, “Barang siapa menyembah Muhammad maka sungguh Muhammad telah wafat..”, lanjutnya sembari menyeka air mata, “Namun barang siapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Kekal!”

Cinta adalah Kesejiwaan yang tak selesai, seperti tangis Umar Al-Farouk saat melihat harta melimpah di masa Kepemimpinannya yang menggenggam 1/3 dunia, “Jika ini baik, mengapa tidak terjadi di zaman Rasulullah dan Abu Bakar?”

Cinta adalah Khasanah yang menembus Rahasia Makna, seperti Nailah gadis belia yang jatuh cinta pada Utsman bin Affan yang telah berusia senja.. Berkata Utsman: ‘Bukankah aku telah renta..apa yang kau lihat dariku..?’. Nailah menyergah: “Masa mudamu telah kau habiskan berjuang bersama Rasulullah.. itu cukup untukku jatuh cinta padamu..”

Cinta adalah Keberanian memperjuangkan..dan Kerelaan mendahulukan, seperti Ali bin Abi Thalib yang sempat mengira Fatimah akan dinikahkan dengan Abu Bakar, “Aku dahulukan Abu Bakar atas diriku, dan aku dahulukan Fatimah atas cintaku”..katanya lantang, sekalipun ia amat jatuh cinta pada Fatimah kala itu.

Cinta adalah Kehormatan dalam Rahasia, dan Kerahasiaan sebuah Penghormatan, seperti Fatimah yang berbisik pada Ali, kala mereka duduk berdua: ‘maafkan aku, dulu aku pernah 1 kali jatuh cinta dengan seorang lelaki sebelum menikah denganmu’..Ali bertanya gusar: ‘siapa dia? Kenapa kau tolak?.’..”tidak perlu.. sebab Allah membawanya mendatangiku, dia adalah engkau..”, sahut Fatimah malu-malu.

Cinta ..adalah kuncup yang tak berbunga..
Dan bunga yang tak berkuncup..
Ia sudah kembang sejak pada awalnya..
Dan tetap ranum sampai pada akhirnya..
Pecinta sejati selalu sanggup jatuh cinta berkali-kali..
Pada keistimewaan termanis sampai pada kejatuhan terkocakpun ia tetap jatuh cinta.
Cinta adalah kejadian suci, tidak ada yang terlalu terlambat, tidak ada yang terlalu cepat..
Ia bermain dalam rongga waktu yang terberkati..
Di kolong langit yang terberkati..

Cinta adalah pertanyaan yang tak terjawab..
Dan sebuah jawaban tanpa pertanyaan

Cinta adalah Dakwahmu..yang dengan rela memberi yang bajik dan mencegah terjadinya yang fujur..tak ada padanan yang lebih luhur dari itu..
Mencintai adalah kesediaan hati..memberi lebih banyak dari yang diminta..memaknai lebih dalam dari yang kasat mata dan menahan perih pada batas-batas yang tak berbatas..

Jangan tinggalkan Allah atas nama Cinta..dan Jatuh Cinta lah atas nama Allah

– dr. Radietya Alvarabie

reblog from : http://radietyaalvarabie.wordpress.com/

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s