antipati-filantropi

Saya tidak tau mengapa kandungan kafein dalam kopi dapat membuat saya bertahan selama ini hari ini. Padahal biasanya, satu jam setelah saya meminum kopi, saya langsung tertidur tanpa berdosa, dan keesokan harinya saya memaki-maki layanan televisi yang menampilkan iklan kopi tersebut dan seenaknya mengeluarkan sumpah serapah bahwa kopi itu sama sekali tidak ber-efek bagi para penikmatnya. padahal, siapa yang bersalah jika saya tertidur sesaat setelah minum kopi? tentu produsen kopi lah yang salah. *jadi maksud lo apa fit?* 

semestinya memang begitu,kandungan kafein yang terdapat dalam kopi itu dapat membuat saya terjaga. yah, kali ini kopi ini cukup berhasil membuat saya terjaga dan berulah sebagaimana mestinya. namun, yang patut kita cermati adalah, kafein itu selain dapat membuat terjaga, juga dapat membuat kita sulit mengendalikan emosi, sehingga dapat menjadi salah satu penyebab kanker.

dalam penelitian lain menyebutkan bahwa kopi juga bisa menyebabkan penyakit maag, tukak lambung, dan tukak usus halus, dikarenakan kopi meningkatkan asam lambung dalam jangka waktu yang lama. dan bagi wanita–yah, karena saya wanita– kopi juga dapat mengganggu kesuburan dan ketidakteraturan cara pikir. yah seperti saya inilah salah satunya yang terjangkit virus randominasi yang diakibatkan oleh ulah kopi.

oke, baiklaah. saya tidak ingin lagi-lagi menghakimi sesuatu. saya juga tidak akan lagi-lagi bersikap apriori karena sungguh, saya tidak mengenal produsen-produsen kopi itu. dan karena sampai saat ini, saya tidak mengerti apa alasan para produsen kopi itu tetap membuat kopi meski jutaan orang telah terkena diabetes meletus, gangguan janin, kerusakan fungsi hati, dan atau sebagainya.

maka kali ini, bisa saja saya terus menerus membicarakan sisi buruk sang kopi. membuat anda mengangguk-angguk percaya dengan kalimat sihiran saya bahwa pesona sang kopi memang tidak semenakutkan dampaknya, bahkan lebih buruk lagi. atau bisa saja saya membuat blueprint di akhir tulisan dan bersama seluruh rakyat Indonesia menyatakan sikap untuk berhenti membeli dan meminum kopi-kopi yang terjual di seluruh pelosok negeri. kebencian itu seakan terhimpun. menjadi satu. dan mengalahkan sang tokoh utama *re: kopi*.

namun ternyata, saya bisa saja membuat berbagai statemen menarik bahwa secara priomordial, kopi juga bagus bagi kesehatan sejauh digunakan dengan bijak. penelitian menyebutkan bahwa kopi ternyata malah mengurangi resiko seseorang dari serangan pernyakit, seperti diabetes, kelainan jantung, kanker kolon, sirosis hati, batu empedu, dan sakit kepala. kafein dalam kopi juga bisa jadi penawar untuk perokok aktif.

yup, karena kandungan kafein, mineral, zat antioksidan, zat antibakteri, dan antikelat yang ternyata dapat membuat kopi si nikmat menakutkan itu menjadi nikmat menawan *apasih fit*.

jadi intinya tentang kopi aja nih fit? ah tentu bukan. saya ingin sedikit menghubungkannya dengan sebuah kisah tentang benci dan cinta. betapa kedua sisi ini pasti pernah berselimut dalam jiwa manusia, siapapun ia. kecuali Rasulullah SAW, yang dirinya selalu dipenuhi oleh cinta..

Alkisah, seorang lelaki Arab bernama Tsumamah bin Itsal dari Kabilah Al Yamamah pergi ke Madinah dengan tujuan hendak membunuh Nabi Shalallahu alaihi wa sallam. Segala persiapan telah matang, persenjataan sudah disandangnya, dan ia pun sudah masuk ke kota suci tempat Rasulullah tinggal itu. Dengan semangat meluap-luap ia mencari majlis Rasulullah, langsung didatanginya untuk melaksanakan maksud tujuannya. Tatkala Tsumamah datang, Umar bin Khattab ra. yang melihat gelagat buruk pada penampilannya menghadang.

Umar bertanya, “Apa tujuan kedatanganmu ke Madinah? Bukankah engkau seorang musyrik?”
Dengan terang-terangan Tsumamah menjawab, “Aku datang ke negeri ini hanya untuk membunuh Muhammad!”.

Mendengar ucapannya, dengan sigap Umar langsung memberangusnya. Tsumamah tak sanggup melawan Umar yang perkasa, ia tak mampu mengadakan perlawanan. Umar berhasil merampas senjatanya dan mengikat tangannya kemudian dibawa ke masjid. Setelah mengikat Tsumamah di salah satu tiang masjid Umar segera melaporkan kejadian ini pada Rasulullah.

Rasulullah segera keluar menemui orang yang bermaksud membunuhnya itu. Setibanya di tempat pengikatannya, beliau mengamati wajah Tsumamah baik-baik, kemudian berkata pada para sahabatnya, “Apakah ada di antara kalian yang sudah memberinya makan?”.

Para shahabat Rasul yang ada disitu tentu saja kaget dengan pertanyaan Nabi. Umar yang sejak tadi menunggu perintah Rasulullah untuk membunuh orang ini seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya dari Rasulullah. Maka Umar memberanikan diri bertanya, “Makanan apa yang anda maksud wahai Rasulullah? Orang ini datang ke sini ingin membunuh bukan ingin masuk Islam!” Namun Rasulullah tidak menghiraukan sanggahan Umar. Beliau berkata, “Tolong ambilkan segelas susu dari rumahku, dan buka tali pengikat orang itu”.

Walaupun merasa heran, Umar mematuhi perintah Rasulullah. Setelah memberi minum Tsumamah, Rasulullah dengan sopan berkata kepadanya, “Ucapkanlah Laa ilaha illa-Llah (Tiada Tuhan selain Allah).” Si musyrik itu menjawab dengan ketus, “Aku tidak akan mengucapkannya!”. Rasulullah membujuk lagi, “Katakanlah, Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu Rasul Allah.” Namun Tsumamah tetap berkata dengan nada keras, “Aku tidak akan mengucapkannya!”

Para sahabat Rasul yang turut menyaksikan tentu saja menjadi geram terhadap orang yang tak tahu untung itu. Tetapi Rasulullah malah membebaskan dan menyuruhnya pergi. Tsumamah yang musyrik itu bangkit seolah-olah hendak pulang ke negerinya. Tetapi belum berapa jauh dari masjid, dia kembali kepada Rasulullah dengan wajah ramah berseri. Ia berkata, “Ya Rasulullah, aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muahammad Rasul Allah.”

Rasulullah tersenyum dan bertanya, “Mengapa engkau tidak mengucapkannya ketika aku memerintahkan kepadamu?” Tsumamah menjawab, “Aku tidak mengucapkannya ketika masih belum kau bebaskan karena khawatir ada yang menganggap aku masuk Islam karena takut kepadamu. Namun setelah engkau bebaskan, aku masuk Islam semata-mata karena mengharap keredhaan Allah Robbul Alamin.”
Pada suatu kesempatan, Tsumamah bin Itsal berkata, “Ketika aku memasuki kota Madinah, tiada yang lebih kubenci dari Muhammad. Tetapi setelah aku meninggalkan kota itu, tiada seorang pun di muka bumi yang lebih kucintai selain Muhammad Rasulullah.”

ah, adakah diri kita sudah seperti beliau sang ma’shum? atau malah menjauh dari segala sifat yang beliau contohkan? padahal kita selalu meng-amini bahwa kita adalah ummat beliau yang selalu meminta syafa’atnya di yaumil akhir kelak.

tetapi, sejauh mana kita bisa memaafkan kekhilafan saudara kita? Seberapa besar kita mencintai sesama? kalau tidak, kita perlu menanyakan kembali ikrar kita yang pernah kita ucapkan sebagai tanda kita pengikut beliau.

dan satu hal yang perlu diingat adalah bahwa benci bukan lawan dari cinta. karena benci tidak mampu menghentikan cinta. seperti prinsip dualisme yang sering digaungkan oleh entahlah, bahwa panas dapat terhenti dengan adanya dingin.bahwa api dapat terhenti dengan adanya air. namun hal ini berbeda dengan cinta. karena cinta tak akan bisa padam dan terhenti dengan adanya benci. 

berusahalah meyakini, bahwa, saudara kita disana, adalah rembulan. yang tetap memiliki sisi gelap yang tak ingin ditampakannya pada siapapun. maka berlatihlah, untuk memandang sang bulan pada sisi cantik yang menghadap ke bumi.

tetap cintai saudaramu, meski ia telah membuat noktah besar-kecil di hati.

dan, jadilah ummat Rasulullah SAW yang saling mencintai karena Allah 🙂

 

teruntuk dua sahabat terkasih

yang sedang Allah uji dengan benci dan cinta

agar dapat menyusun puzzle hati berwarna pink

yang akhirnya dapat membawa nya menaiki tangga menuju syurga

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s