kembang api

selepas adzan isya tadi, saya sempat mengintip ke atas langit dan meyadari bahwa ada yang sengaja dilepaskan di atas sana. bukan balon. bukan kupu-kupu, bukan juga mobil (sekarang jaman mobil terbang soalnya :|), tapi kembang api. bentar, kembang api emang terbang ya? haha. *fokusfokus*

sebutlah misalnya saya melihat 5  kembang api dengan warna berbeda dalam waktu 1 menit. dan jika yang melihat kembang api itu adalah orang-orang yang norak kayak saya, sudah dapat dipastikan bahwa saya akan memandangi sang kembang api dengan mata berbinar dan senyum yang lebar. persis seperti anak kecil yang melihat ibunya membawa sekarung es krim, khusus untuk dirinya. *ah mama, aku mau es krim*. okey, artinya, saya akan menemukan 5 kebahagiaan ketika melihat sang kembang api itu. memang begitu ya?

satu kembang api merepresentatifkan satu kebahagiaan? ah entahlah itu menurut postulat siapa. menurut saya, satu kembang api itu menawarkan berjuta kebahagiaan. buktikan saja, saya akan berikan teka-teki ini, khusus untuk kamu yang baca tulisan ini.

ada berapa warna yang kamu temukan dalam satu kembang api yang lepas di langit? dan sebutkan apa warnanya.

well, kalau kamu bisa menyebutkan apa saja warna yang ada di dalam satu kembang api itu, secara tepat, maka saya akan memberikan satu hadiah khusus untuk kamu. tapi jika tidak, tolong buat petisi agar manusia di dunia percaya : bahwa saya itu teramat sangat keren *wew, apaan sih lo fit*

menurut pengalaman saya, yang sudah lama melihat kembang api dengan senyum melebar, saya belum sanggup memindai apa saja warna yang tampak pada kembang api itu. alasannya? persis. karena saya terlalu menikmati keindahannya.

dan itulah, yang sedang saya ajarkan pada diri saya sendiri, dan mujahid mujahidah saya kelak, bahwa, kehidupan itu, yang seringkali tampak jahat, yang seringkali melukai, sejatinya karena kita terlalu sibuk, memindai, meneropong, apa-apa yang seharusnya tak kita lihat. apa-apa yang seharusnya menjadi rahasisnya dengan sang pencipta saja. tapi kita sering bersikap munafik. membela diri sendiri, sedang pikiran yang lain mencaci manusia-manusia yang –sebut saja– membuat kita bersedih hati, berkeluh kesah, atau bahkan kecewa.

ya, karena kita terlalu sibuk mencari cela atas kesalahan orang lain atas diri kita. atas kesedihan yang kita alami. atas sejumput asa yang berubah menjadi petaka.

padahal seyogyanya, kitalah yang bertanggung jawab atas itu.

jika saja kita bisa–hanya bisa– melihat keindahan mereka yang berada di sekitar kita, tanpa perhatikan buruknya, tanpa perhatikan cela nya,  maka satu hasilnya, kita hanya bisa dan sanggup melihat keindahannya. persis. seperti kembang api.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s