Iman itu Manis.

sesungguhnya saat ini saya sudah sangat suntuk, suntuk sekali. tapi seperti biasanya, belum juga mengantuk. berhubung modem saya yang cantik ini masih berfungsi dengan normal dan wajar — tanpa menunjukkan perbedaan grafik amat curam sehingga membuat koneksi internetnya kadang hanya 1 kbps saja *nangisdarah*–, maka saya menyempatkan diri untuk menulis sekelumit ingatan saya tentang apapun. tentang kecintaan saya pada hujan, pada keroppi, pada es krim, pada cokelat, pada lembayung. tentang kecintaan saya yang kadang mungkin orang bilang itu lebay, berlebihan, hiperbolis. padahal, masing-masing makhluk berhak untuk mendapatkan dan menunjukkan cintanya pada apapun dengan cara apapun. membunuh misalnya–jika ia mau. 

beberapa hari lalu, saya mengikuti ujian psikologi seadanya. yang diadakan seadanya. oleh sistem akhir zaman seadanya. tepatnya, saya iseng mengisi test psikologi yang diadakan oleh andoid teman saya –yang juga seadanya. haha *timpukingueaja*. 

di sana, saya memilih ujian “bagaimana tipe cinta kamu”. wew ngeliat judulnya aja udah berasa jadi kayak putri cinta yang kisah cintanya paling dramatis. seperti kisah Romeo Juliet yang sama-sama bermisi mati untuk bervisi abadi. tapi tenang, saya bukan tipe orang pembunuh diri hanya untuk bersama dengan kekasih hati *apaansihfit*. nah, sampe mana saya tadi? oya, tentang tipe cinta. setelah saya mengikuti tes percintaan konyol ala manusia akhir zaman seadanya, ternyata saya adalah tipe perempuan yang memiliki cinta yang super romantis. haha ember mana ember. iya, intinya saya romantis. betewe, romantis itu definisi nya apa ya? haha. bentar ya, buka KBBI online dulu. romantis menurut KBBI adalah bersifat cerita roman (nah kan), bersifat mesra dan mengasyikkan. itu menurut KBBI loh ya. sedangkan menurut saya, romantis adalah ketika Allah sengaja mempertemukan saya dengan hamba-hamba pilihanNya untuk meneruskan sisa-sisa episode kehidupan saya. romantis adalah ketika Allah sengaja menunjukkan ciptaanNya yang luar biasa indahnya untuk selalu saya kagumi–dan cintai. seperti hujan, pelangi, lembayung. aaaaak rasanya pengen deh tukeran sama manusia di ujung sana yang bisa tiap saat liat tiga hal itu. surga pindah ke dunia kayaknya 🙂 *noh kan lebay lagi*. 

romantis adalah ketika Allah kembali membuat saya memetik hikmah yang saya rasakan sendiri. bukan dengan kisahmu, bukan kisah kalian, bukan juga kisah mereka, tapi kisahku. kisahku yang nantinya akan kukenang sendiri, sampai mati. mengenang kejadian siang dan malam, memuhasabahinya, berbuat lebih baik lagi setelahnya. bukankah mukmin beruntung adalah ia yang tiap harinya selalu lebih baik dari hari sebelumnya?

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka mentafakkuri (memikirkan) tentang penciptaan langit dan bumi (lalu berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia; Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Ali Imran: 190-191). 

“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia; Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia; Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia; Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

ayat itu kayak reff sebuah lagu. makin diulang, makin bikin nangis. 

Allah ciptakan kita, bukan untuk melakukan segala kesia-siaan belaka. bukan untuk menikmati dunia saja. tapi Allah ciptakan kita, untuk menjadi cahaya pada gelap yang memekat. untuk membantu memikul beban pada pundak yang tak kuat. untuk menyediakan senyum pada bongkahan hati yang ranum. untuk menyemai bahagia pada asa yang lara. untuk bermanfaat sekarang juga. 

“Then, which blessings of your Lord will you deny?” (QS ArRahman: 13)

kau tau? seringkali kita tidak bisa memilih saat memulai, tapi kita selalu bisa memilih kapan mau mengakhiri. selamat dini hari. selamat qiyamullail. selamat tilawah. selamat tidur. 

aaaak, manisnya iman :” 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s