menjeda khalwat

Berjedalah dalam cinta kasih dan tak perlu tergesa..
dia akan subur lewat saripati rindu..

dari pada kau bayuri materi bertubi yang justru membusukkan akarnya..

Ada padanan kata yang tak bisa ku racik untuk mu..bukan karena tidak sempat..tapi karena kau lebih indah dari itu..
Ada sebentuk keinginan yang tak mampu ku ramu bagi mu..bukan karena tidak ingin..namun karena ku malu pada kelayakan itu.

 

Cinta adalah Pembenahan yang tak selesai,

Kerinduan yang tak habis,

Perawatan yang tak putus..

..adalah bahasa yang lebih nyaring dari kata-kata
kalimat yang lebih terang dari retorika

..adalah keyakinan yang mendahului pembuktian
pengabdian yang tak mensyarati penagihan

Sebuah rutinitas sederhana yang tak jemu kau tekuni..sampai engkau sendiri jemu..menerawang dan mengenang..lalu mengais lagi sejarah indah yang dulu kau jemui itu

Cinta..adalah regresi dari cascade sejarah kita..yang episodenya pernah kita habiskan pada jalinan di atas iman

 

Jangan terkerdilkan oleh jarak..
Ada kendaraan yang selalu sanggup merekati hatimu denganya..

Adalah ‘doa’..
Kendaraan yang mampu menyeruak segala bebatan variable antara engkau dan dirinya..

Sanggup menembus langit dan memohonkan pada Pemiliknya..
Ampuh menyusup sudut-sudut hati..yang paling rahasia sekalipun..

Lewat doa jarak tak begitu memedihkan dan engkau dapat menyentuhnya dengan inkrah..tanpa mencederainya dan meruyak keagungan kalian sebagai ‘Makhluk yg Taat’

 

Tahukah engkau tentang bahasa rindu?..seringkali ia menggema terlalu dalam sampai-sampai kau tak menghendaki kalimat lain selain ‘bertemu’..

Rindu..adalah lembah ..dasarnya adalah mahabah, puncaknya adalah makrifat
Kita butuh Rindu untuk mengencangkan cinta yang mulur..kita butuh Cinta untuk memulurkan rindu yang kencang..

Seperti tabahnya Sahabat Rasul.. Zaid, saat hendak dipenggal kepalanya ..Abu Sufyan sempat bertanya padanya: “Sukakah engkau jika Muhammad menggantikan posisimu saat ini..dan engkau ku biarkan kembali bersama anak dan istrimu di rumah?” tanyanya sembari tersenyum picis

Tanpa menjeda panjang Zaid menyergah lantang: “Sungguh Aku tak rela sekalipun Muhammad hanya tertusuk duri.. sedangkan aku bersantai-santai bersama keluargaku di rumah..”

Begitulah jalan dakwah mengajarkan kami..
Untuk menahan rasa sakit sementara demi kerinduan pada kemenangan yang lebih Abadi

..rindu adalah penggelora cinta..dan cinta adalah energi rindu.
Penguat ketika berpisah..pemanis saat bertemu

Katakan saja dengan lugas..segala terang yang berlembayung itu, agar tak mentah perasaanmu  meraba pesona ..lalu dengan sadar menelikung iman yang kau maktubi sejak semula:

“Sayang sekali kau tak ada diruang hatiku, singgasana hatiku sudah untuk-Nya. Sedang bagimu kudoakan kebaikan dunia dan kuharapkan pertemuan akhirat dalam sebaik-baiknya maqam (tempat)..

Ingatlah, kau milik-Nya bukan milikku, jiwaku pun digenggaman-Nya.

Bersandarlah pada-Nya,jangan padaku.

Dialah yang lebih layak kau rindui, bukan aku.

Semayamkan aku cukup di sisimu, sebab hatimu itu milik-Nya, bukan milikku.

Tak layak aku cemburu, sebab aku bukan penjaminmu.

Aku mencintaimu karena Allah, bila bukan karena Dia, tidaklah akan aku cintai kamu..itu saja.. tidak kurang dan tidak lebih..”

 

Sebagaimana Nasihat singkat Asy-Syafi’i yang menginterupsi rasa yang terlalu bertalu-talu

“.. Jangan pernah mencintai seseorang yang tak mencintai Allah, karena jika ia meninggalkan Allah, maka suatu saat ia akan meninggalkanmu”

 

reblog from: http://radietyaalvarabie.wordpress.com/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s