Kejadian Malam Itu

“Tenang dan sabar ya Fit, semua akan baik-baik saja. Kamu bisa nerima semua, tapi semua belum tentu bisa nerima kamu. Teruslah istiqamah dan selalulah menjadi akhwat istimewa.” 

Tring. Rasanya ada sejuta senyum pepsoden* yang hadir menghiasi pikiran saya yang sedang suntuk kala itu. Sama sekali ga berpikir bahwa sebelumnya ada sesuatu yang menyebabkan sang pengirim pesan mengirimkan pesan itu. Dan saya benar-benar baru bisa menarik benang merahnya kemarin malam, saat saya sedang berpikir bagaimana cara tidur yang baik. Sungguh, saya lupa bagaimana caranya. Oke fokus. 

Ketika malam itu angin berhembus begitu pelan–seolah-olah ia mengerti bahwa saya butuh waktu yang lebih lama untuk bisa mengambil sedikit kesimpulan dari kata-kata itu, tiba-tiba secercah cahaya masuk dan menelusuk ke relung hati saya yang paling dalam *elah, telenovela bet si lu fit*. 

Intinya, kemarin malam saya baru saja dibuat mengerti. Bahwa terkadang memang masih sangat banyak orang yang sibuk mengurus urusan orang lain. Sibuk mencari tahu jam terbangnya, men-stalker isi statusnya, ngepoin whatsapp nya, buka-buka sms atau telefon masuk sama keluarnya, bahkan mungkin sampe jadi dokter gadungan yang ngebedah otak nya trus ngeluarin segala memorinya buat dibaca di Laptopnya, trus disebarin isinya di khalayak ramai. *wew serem ya*. Yah, tapi mau bagaimana lagi. Memang begitulah kondisinya.

Aaaah waktu yang kita punya tiap hari itu cuma 24 jam, kalau setengah nya cuma diisi sama ngomongin orang lain, nyari tau perkembangan keburukannya, stalkerin memori di hape, medsos, sama di otaknya, yaah intinya ngurusin orang lain terus lah. Trus dengan rela nya, kita cuma menyisakan setengah dari jatah satu hari untuk diri kita sendiri? Terus kapan kita bisa muhasabah dan mengingat kesalahan kita sendiri? Pernah kebayang gak sih, kalau kelakuan kita juga mungkin jadi bahan pembicaraan yang lain?

Pantesan ya, Allah larang kita untuk ghibah, untuk membicarakan keburukan orang lain –dan kemudian di sebar seluas-seluasnya, biar semua orang tau, biar ga ada lagi yang mau temenan sama dia, biar citranya hancur, biar karirnya jatuh seribu persen,biar gak ada lagi yang memandang dia sebagai manusia– karena, ternyata, seharusnya, kita sibuk mencari tahu apa kesalahan kita, bagaimana selama ini kita bersikap, seperti apa wajah ruhiyah kita, apa kabarnya iman di hati kita, di mana letak Allah di hati kita, masihkah Ia menjadi yang teratas atau malah menghilang karena begitu sibuknya kita mencari tahu kesalahan saudara kita yang lain?

Karena, ternyata, seharusnya, kita sadar, bahwasanya waktu yang hanya sedikit ini sama sekali tidak boleh kita sia-siakan. Apalagi kalau hanya kita gunakan untuk membicarakan keburukan orang lain saja. 

Tapi ya memang, kita gak pernah bisa mengubah cara berpikir dan hati orang lain yang membicarkan keburukan-keburukan kita, tapi kita masih bisa kan mengubah cara berpikir dan hati kita agar tetap menyayangi mereka dengan setulus-tulusnya kasih sayang?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s