bawang putih

saya cukup bingung dengan fenomena abad 21 ini. semakin banyak saja manusia-manusia yang merasa dirinya adalah penyebab segala kebencian. mungkin saya salah satu yang merasakan hal itu. saya merasakan sensasi luar biasa ketika mendapati sebuah semi-fakta yang menyatakan bahwa saya adalah penyebab dari ketidakteraturan kosmik. yah apapun itu. saya merasa ketika hujan turun itu karena ulah saya. ketika matahari memanas itu karena saya. ketika meteor-meteor di angkasa bertabrakan juga karena saya. sayalah sang penghancur dan perusak semuanya. seketika saya mendramatisir cerita seolah-olah saya adalah bawang putih dari saudara bawang merah yang menjadi sasaran empuk untuk kena omel dan cacian sana sini. 

tapi saya juga bingung dengan keadaan sekitar. yang kerjanya hanya bisa marah-marah. mengkritik tidak jelas. cemooh sana sini. berghibah luar dalam. yang isi hidupnya bisa jadi hanya memikirkan bagaimana kelanjutan cerita orang yang lagi dikepoin. yang pikirannya dipenuhi sama sampah-sampah negatif yang dibuat dari imajinasi sendiri. yang tawanya terbahak untuk menyaksikan orang yang sedang menjadi korban itu bersusah membenahi dirinya– dimata TuhanNya. bukan di mata mereka.

saya heran. masih saja ada orang seperti itu. yang entah, mungkin mereka lupa kata terimakasih. mungkin mereka lupa bagaimana berucap maaf. atau mungkin mereka memang sudah lama tak mendengar dan mengucap kata itu? 

kau tau dimbo? *ngomong sama laptop* 

hidup memang sulit. sejenak kita terlalu berpikir bagaimana bisa hidup dengan cercaan orang lain disekitar. sejenak kita harus menyadari bahwa kita hidup bukan untuk orang lain. bukan untuk mencari simpati yang lain. bukan untuk mencari pujian sana sini. 

bukankah kau ingat bahwa “sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup, dan matiku hanyalah untuk Allah”? lantas mengapa terlalu sering memperhatikan apa yang orang lain bicarakan?

dan satu lagi, dimbo. 

apakah sesulit itu memaafkan kesalahan yang telah dibuat oleh saudaranya? kami sama-sama Islam kan? dan bukankah muslim yang satu dengan yang lain itu bersaudara?

coba kau pikir.

bukankah kau masih tetap teramat mencintai dirimu, meski sudah terlampau banyak kesalahan yang kau perbuat? masih memberinya makan, mengizinkannya untuk istirahat, bernafas. masih memberinya cinta yang luar biasa besar. lantas saudaramu? yang terluka itu, yang tersakiti itu, tak juga kau perhatikan? kau kemanakan cinta itu? 

saudaramu berhak atas cinta itu. sebesar apapun kesalahan yang ia lakukan. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s