kau pikir?

kau bilang apa? tak bisa menjelaskannya? kau kira, aku semudah itukah menjelaskan semuanya padamu? kau punya hati bukan? se-tidak-bekerja apapun hatimu itu, tetap saja ia memiliki nurani. dan kau, selalu berhak meminta fatwa pada hatimu. 

kau bilang apa? sedih? menangis? kau kira, aku tak semudah itu meneteskan air mata? kau punya hati bukan? se-tidak-bekerja apapun hatimu itu, tetap saja ia memiliki nurani. dan kau, dengan hatimu itu, akan selalu mengerti mengapa aku begitu mudah meneteskan air mata. 

kenapa kau palingkan wajahmu dari indahnya lembayung sore tadi?

kenapa kau tutup telingamu dari indahnya kicauan burung-burung di atas dahan itu?

kenapa kau lindungi dirimu dari indahnya hujan yang mengguyur kotamu sejak tadi? 

 

ah, kau. keindahan-keindahan itu kau sendiri yang imajinasikan bukan?

jika memang ia tak indah, maka carilah yang lebih indah.

 

tapi satu hal yang ingin aku ingatkan padamu. bahwa, rumput tetangga itu terlihat lebih hijau karena kita lupa menyiram rumput kita sendiri. 

 

kau tau? aku tak takut pada pekat malam. sebab batasnya telah ditentukan. hatiku sendiri yang kurisaukan. isinya kadang sulit diperkirakan. 

 

yaampun lebay banget gue. masa iya mesti nunggu nangis dulu baru mood buat nulis >,<

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s