KKN #2

masih dalam topik yang sama, di KKN, saya bertugas sebagai sekretaris sekaligus staf bagian pendidikan yang dimandori oleh seorang Kak Othe yang begitu menyayangi anak kecil. tugas kami begitu menyenangkan. setiap pagi kerjanya bermain dan bersenang-senang dengan adik-adik PAUD, siangnya belajar sama adik2 SD, malamnya belajar ngaji sama adik-adik TPQ. bertemu anak kecil itu seperti bertemu dengan masa depan. mereka membawa segenggam harapan. dan kami, ditugasi untuk bantu menggenggam harapan itu supaya berangsur-angsur menjadikannya nyata. 

hari itu langit agak mendung, gerimis pun hadir menyambut. karena saya sudah berjanji untuk terus mengikuti kegiatan TPQ mereka, maka tak ada alasan, saya pun datang dengan dua teman saya, Intan dan Ambar. setelah mereka semua mengaji iqra dan Al-Qur’an, akhirnya pak Ustad pun menyerahkan waktunya untuk kami. Karena kami bukan mengajar, namun sama-sama belajar, maka saya meminta mereka untuk membentuk lingkaran. saat itu saya sudah menyiapkan dua buah film dokumenter inspiratif khusus untuk sang penerus estafet kejayaan Islam itu. awalnya, saya berikan mereka tontonan tentang manusia-manusia yang dalam hal fisik tak sesempurna mereka. manusia-manusia super yang meskipun dengan kekurangannya itu masih sanggup berkelahi dengan rasa malasnya, dengan ketakutannya, dengan sifat pecundangnya, hingga mereka mengikuti berbagai perlombaan cabang olahraga dunia, sampai ke Atena. dan tidak sedikit dari mereka yang memenangkan perlombaan khusus untuk mereka itu. kau masih ingat bukan, bahwa ditiap kekurangan pasti ada kelebihan? 

saat mereka menonton film itu, sebagian masih ada yang tertawa karena menurut adik-adik itu lucu. entah gaya lompatnya, atau gaya berenangnya, atau apalah. maklum, sebagian dari mereka bahkan ada yang PAUD dan masih SD kecil-kecil. setelah satu film itu selesai, saya memutarkan satu film sisanya, yaitu the power of dreams yang dibuat khusus oleh mas Danang (alumni IPB yang saat ini entah sudah menggapai mimpinya yang keberapa). mas Danang yang bukan orang berpunya, bukan pula seorang yang cerdasnya melebihi rata-rata, namun ternyata ia mampu buktikan pada dunia, bahwa ia mampu menjadi yang terbaik di kampusnya sana, dengan gelar cumlaude, menjadi mahasiswa berprestasi nasional, menaiki puncak gunung dan mengibarkan bendera merah putih di sana, dan bahkan sampai melanjutkan kuliah ke Jepang, negeri yang sudah sejak lama ia idamkan. tapi tentu saja, apa yang ia raih selain karena ridha Allah, pun juga karena usahanya yang tak berbatas. selain itu, beliau juga mempercayai bahwa dengan bermimpi, siapapun ia, pasti bisa menjadikan mimpi itu nyata. namun, mimpi yang tak diikat dengan pena, akan cepat hilang dan lupa. maka itu, beliau selalu menuliskan mimpi-mimpinya di atas kertas dan ia tempel pada dinding kamarnya. dan wow! satu persatu mimpi-mimpi itu perlahan terwujud, atas izin Allah. 

sejurus kemudian, setelah mereka semua terhipnotis dengan film dan kata-kata saya yang begitu lebay, akhirnya saya meminta mereka untuk mengambil secarik kertas dan menuliskan 5 saja mimpi mereka. awalnya mereka bingung, bahkan hampir semuanya bingung. setelah saya beri contoh, baru perlahan mereka mengerti. menit berganti menit, sampai akhirnya mereka semua telah selesai menuliskannya, dan dikumpulkan lagi ke saya. saya baca satu persatu di depan mereka. adik-adik PAUD yang unyu-unyu itu ada yang mau jadi dokter, pilot, masinis, perawat, dan astronot sekaligus! haha keren ya 😀 ada juga yang mau jadi pak ustad, mau jadi kepala desa, bahkan ada yang mau jadi kayak kak Fitri :” yaampun terharu banget deh..

satu persatu kertas saya baca sampai kemudian saya menemukan tulisan mimpi yang bahkan suara saya pun tercekat untuk membacanya. pada mimpi keempatnya, ia menulis begini : saya ingin rumah saya dibangun. 

saat itu, saya pun ikut mengamini doa dalam mimpinya itu. semoga Allah kabulkan ya nak :”

setelah semua kertas sudah saya bacakan, saya pun kembali berkicau tak jelas, tentang mimpi. tentang iman, tentang kepercayaan kepada janji-janji Allah, kepercayaan kepada nikmat-nikmatNya yang tak berbilang, kepada ribuan malaikat yang sedang menaungi kami saat itu di surau kecil itu. tentang kepercayaan kepada malaikatNya bahwa ia akan terbang lagi ke Arsy dan mengadu pada Rabb semesta alam itu bahwa di bumi sana, ada sekelompok manusia yang sedang mengkaji kalamMu, dan memiliki mimpi-mimpi mulia yang sungguh hanya Allah lah yang bisa mengabulkannya, hingga malaikat itu pun rela bersujud, berdoa, meminta agar Allah kelak kabulkan mimpi-mimpi anak-anak itu. dan sejurus kemudian, mereka menangis. bahkan si kecil yang masih PAUD yang duduk disebelah sayapun ikut menangis. 

ah adik, hati kalian begitu lembut :’) 

kemudian, kertas-kertas milik mereka itu, yang sungguh, saya sama sekali tak butuh itu, segera saya kembalikan lagi ke mereka. dan saya meminta mereka untuk menempelkannya pada dinding kamar mereka. agar tiap saat mereka dapat membaca dan mengaminkan mimpinya sendiri. 

bermimpilah adik-adikku~ dan teruslah berusaha wujudkan mimpi-mimpi itu 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s