LAKI-LAKI HARUS MENANGIS

anak laki-laki juga harus menangis :”

RANGTALU

Tangis Pertama

“anak bujang indok buliah manangih doh”2).

Itulah kalimat ‘doktrin’ yang diucapkan nenek setiap kali saya terjatuh di waktu kecil. Boy don’t cry, mungkin begitulah terjemahannya jika nenek saya lahir di Inggris. Ahmad Dani musisi Indonesia yang “berbau” yahudi juga menulis lirik yang hampir sama dengan doktrin nenek; “anak laki nggak boleh nangis”. Kemudian dinyanyikan oleh anak-anaknya.

Seolah menangis hanyalah hak perempuan. Identik dengan kelemahan, ketidakberdayaan melawan kekuatan, dan perempuan adalah sarangnya, bukan laki-laki. Sehingga ketika ada laki-laki yang menangis maka pastilah menjadi bahan tertawaan. Lamah bana.

Tangis, tawa, marah adalah ekspresi rasa di dalam jiwa. Jika menangis adalah sesuatu yang tabu bagi laki-laki maka akan ada rasa yang tidak tersalurkan dalam ekspresi yang tepat. Sesuatu yang mesti disalurkan lewat airmata tidak bisa diganti dengan lepasnya tawa. Jika terlalu lama di tahan, justru akan menimbulkan efek lain yang lebih parah. Semakin tertekan, depresi yang berujung pada tali…

View original post 506 more words

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s