Cerpen : Kamu Baik, Masa Lalumu Tidak

“Perempuan lebih suka dengan laki-laki yang datang dan membicarakan masa depan, bukan masa lalu

Pagi itu, temanku yang berada jauh di tempat lain mengirimkan pesan pendeknya. Ponsel yang berdering dengan nomor telepon luar negeri. Ku kira dia tidak akan merespon pertanyaanku beberapa pekan lalu.

Aku merasa, setiap orang memiliki rahasia. Rahasia yang berkaitan dengan (si)apapun, yang apabila rahasia itu dibuka. Maka, mungkin dia akan merasa hina di hadapan orang lain, merasa hilang harga dirinya. Pernah membaca roman Harimau karya Mochtar Lubis? Setidaknya, jika kamu pernah membacanya. Maka kamu akan paham benar kalimat tadi.

Aku merasa, tidak ada orang yang benar-benar memiliki masa lalu baik. Dan betapa bersyukurnya aku ketika teringat bahwa salah satu sahabat nabi yang dijamin masuk surga, masa lalunya jauh lebih buruk daripada masa laluku. Setidaknya aku belum pernah membunuh orang.

Hari itu, kala aku tertarik pada seorang gadis dengan kerudung panjang. Aku selalu menarik diri, urung. Merasa tidak pernah pantas hendak menyandingnya, bahkan sekedar menyapa. Aku duduk di bangku panjang, merenungi masa laluku. Aku bukan laki-laki baik, setidaknya aku menilai diriku sendiri begitu.

Dulu aku pernah mencuri, sekali-dua kali masuk penjara. Pernah berzina dengan dalih suka sama suka ataupun sengaja mengujungi tempat tersebut. Kabar baiknya adalah aku sempat hendak mati. Hal inilah yang mengubahku, ketika aku merasa kematian begitu dekat. Aku baru menyadari seluruh kesalahanku.

Aku ingin berubah meskipun lingkungan lamaku berkata tidak mungkin. Sebab itulah aku merantau jauh di negeri ini untuk pergi jauh dari masa laluku. Nyatanya aku baru sadar, bahwa masa lalu bukanlah sesuatu yang bisa ditinggal. Sebab ia adalah bagian dari diriku sendiri, ada di dalam diriku. Aku tidak mungkin bisa meninggalkannya. Kata temanku, aku harus memaafkan diriku sendiri dan berdamai dengan masa itu.

Entah bagaimana rasanya, menjadi orang baik ternyata jauh lebih sulit daripada menjadi orang jahat. Setidaknya aku pernah jahat, jadi aku tahu bagaimana rasanya. 

Hari itu, aku mengetik pesan pendek ke teman baikku yang baru aku kenal beberapa bulan. Seorang psikolog handal yang mungkin punya indera keenam. Juga seroang bapak dari anak-anak yang ramai dan cerdas. Dia membacaku, bayangkan dia membaca apa yang sedang aku rasakan. Mungkin, jika dia hidup di jaman Majapahit, dia akan dianggap dukun berilmu tinggi.

Katanya menjelaskan dalam komunikasi internet;

“Setiap orang memiliki masa lalu, baik itu masa lalu yang baik atau buruk. Setiap hal di masa lalu tidak pernah ada yang bisa diubah, masa depanlah yang bisa diubah. Percayalah, di dunia ini hampir semua orang memakai topeng. Termasuk kamu, untungnya aku tidak mudah percaya dengan topengmu.

Dan kamu tau bagaimana rasanya berdamai dengan masa lalumu? Mungkin, sama perasaannya ketika kamu menceritakan dirimu sendiri dengan leluasa kemudian aku bisa menerimamu. Tidak hanya kamu sebagai jasad, tapi juga dengan masa lalumu. Kamu mengakui kesalahanmu itu sebuah langkah baik.

Dan percayalah, sekali kamu membuka topengmu kehadapan orang yang kamu cintai dan kamu percayai. Maka, bila dia benar menerimamu, dia akan membuka topengnya pula di hadapanmu. Sehingga kalian benar-benar akan saling mengenal dan memiliki ruang privasi yang lebih besar. Bukankah sangat sulit bagi kita untuk mengijinkan orang lain masuk ke dalam diri kita?

Jika kamu memang mencintai dia, maka ceritakanlah masa lalumu ini dengan lengkap. Di dunia ini banyak sekali orang baik dan orang yang bisa menerimamu. Percayalah. Aku tidak ingin  kamu membohongi dia. Dan bila ditengah perjalanan dia tahu siapa kamu sebenarnya, bisa jadi hal buruk terjadi. Lebih baik tahu sejak awal, kan?

Manusia seperti kita ini pandai sekali bersikap manis. Bersikap baik. Menyembunyikan diri dibalik jas berdasi dan baju koko. Menyembunyikan dosa dibalik kopiah dan gelang tasbih. Manusia selalu dilanda ketakutan, takut bila orang lain mengenalnya. Takut bila orang lain mengetahui aibnya. Hidup seperti itu sungguh memuakan bukan? Kamu sudah menjalaninya.

Bila benar perempuan itu baik. Dia akan melihat masa depan dan memaafkan keasalahmu. Sejauh kamu memang benar-benar beritikad baik. Di dunia ini, masih banyak orang baik. Sayangnya mereka ikut-ikutan bersembunyi. Kau bisa menemukan mereka, asal kamu pun menjadi baik. Jika kamu hanya berpura-pura baik, maka kamu akan bertemu dengan orang yang juga pura-pura baik. Tidak mau kan?

Sambungan internet itu terputus oleh suara Adzan.

“Kita lanjutkan besok, setelah kamu memantapkan keputusanmu. Semangat Bro :D”

Aku menutup layar ponsel. Setidaknya aku tahu, sejahat apapun aku. Allah masih berkenan memanggilku untuk menyembah-Nya. Artinya, dia masih memanggilku untuk Dia ampuni. Aku bergegas mengambil wudhu.

Bandung, 16 April 2014 | (c)kurniawangunadi

 

reblog from :: http://kurniawangunadi.tumblr.com/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s