‘Pakaian’ yang Tertanggal

Ada satu kisah dari sebuah buku yang saya baca yang sempurna membuat saya menangis tersedu. Kisah itu terjadi pada zaman ketika Rasulullah masih hidup. Tentang rasa malu.

Malu; mungkin bisa didefinisikan sebagai perasaan tak enak jika kemaksiatan-kemaksiatan dan dosa yang begitu berlimpahnya diketahui orang lain. Bisa juga didefinisikan sebagai sebuah kondisi kejiwaan yang selalu merasa bahwa Allah selalu memperhatikan tiap mili pergerakan kita—hambaNya. Seharusnya, dengan malu, berbagai kedzaliman tidak akan bertebaran di muka bumi, karena dengan rasa malu, seseorang tidak akan melanggar hak-hak orang lain.

Namun sayang seribu sayang, dewasa ini, dengan berbagai pengaruh perkembangan zaman dan ini itu hingga seterusnya, rasa malu yang seharusnya menjadi bagian dari setengah iman mungkin sudah terdegradasi hingga mungkin hanya sebesar biji sawi yang begitu kecilnya. Padahal kau tau? Seperti hadits yang pernah kita baca, bahwa malu adalah setengah dari iman. Jika rasa malu saja sudah menghilang, lalu kau letakkan dimana keimananmu saat itu?

“Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan Allah Mahameliputi terhadap apa yang mereka kerjakan” (QS An-Nisaa’ [4]:108).

Setiap langkah kaki kita, ucapan bibir, gerakan tangan, bahkan yang terlintas di dalam hati, akan menjadi sebuah kedzaliman jika tidak disertai dengan rasa malu. Allah, selalu mengetahui segala sesuatu, meskipun tersembunyi.

“Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi” (QS Al-A’la [87]:7).

Dahulu kala, ada seorang perempuan datang kepada Rasulullah dengan wajah menatap tanah. Masih dalam keadaan tertunduk, perlahan terdengar suara nafasnya yang berat. Suara nafas yang keluar satu-satu itu menandakan sebuah isyarat bahwa pemiliknya tengah dihimpit masalah yang bertubi-tubi.

Beberapa saat kemudian, perempuan itu tetap saja diam. Tak ada satu pun untaian kata. Hening. Rasulullah menunggu. Manusia berparas indah dan mempesona itu seolah tahu, seorang perempuan datang ke hadapannya selalu dengan satu perlu.

Dalam beberapa jeda, Rasulullah tetap membiarkan perempuan itu dalam diamnya. Memberinya kesempatan untuk mempertimbangkan apa yang hendak disampaikan. Sampai akhirnya, dalam kegundahan yang jelas terasa, sang perempuan akhirnya berkata kepada Rasulullah.

“Wahai manusia terbaik, dengan apa kubahasakan malu ini pada Allah Yang Mahakuasa? Haruskah dengan isak yang menyesak? Dengan kata yang menyemesta? Dengan keluhan keluhan panjang? Atau dengan apa?” tanya perempuan itu dengan nafas terengah-engah.

“Apakah gerangan yang terjadi?” tanya Rasulullah singkat.

“Demi engkau yang dijaga dari segala khilaf, ingin kusampaikan bahwa aku telah melakukan sebuah dosa besar. Wahai Rasulullah, betapa malu aku menghadapkan diri kepada Allah. Betapa tersiksa, ketika hamba menenghadah mengharapkan benderangNya. Obati jiwa ini wahai Rasulullah…” perempuan itu mengucapkannya dengan gemetar.

Kini isak tangisnya perlahan terdengar. Rasulullah mendengarkan keluh perempuan dengan rasa haru yang menyatu. Betapa perempuan itu malu kepada Allah Yang Maha Pengampun. Betapa perempuan itu tak mampu menengadahkan pinta kepada Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Hingga sekarang, ia bersimpuh peluh di hadapannya untuk memohon penawarnya.

“Bertaubatlah kepada Allah, wahai perempuan yang melakukan dosa besar.” Titah itu keluar dari bibir manusia Nabi yang Ummi.

“Hamba teramat ingin melakukannya, ya Rasulullah, tapi bumi telah menjadi saksi semua dosa yang telah aku perbuat. Bukankah kelak bumi akan menjadi saksi di hari kiamat?” suara tangis perempuan itu sangat pedih dan menyayat hati.

“Bumi tidak akan menjadi saksimu…,”tukas sang Rasul mulia.

Selanjutnya beliau melafalkan surat Ibrahim ayat 48, “Hari ketika bumi diganti dengan bumi yang lain”.

Perempuan itu masih saja terlihat sedih. Perkataan Nabi hanya singgah di telinga, tapi tidak di hatinya. Selanjutnya dengan kelu, lidah perempuan itu berujar parau.

“Wahai kekasih Allah, langit juga telah menyaksikan dosa hamba. Bukankah kelak ia akan menjadi saksi pula?” perempuan itu kembali memberikan pertanyaan gelisah.

“Allah akan melipat langit. Bukankah Ia sendiri telah berfirman dalam surat Al-Anbiyaa’ ayat 104 ‘Hari ketika Kami menggulung langit bagai menggulung lembaran-lembaran kertas…’” jawab Rasulullah. Ia berharap perempuan di hadapannya segera tenang.

Perempuan itu tersenyum mendengar tutur penyeru dari manusia paling indah. Betapa ia juga merasakan bahwa Rasulullah tengah meredakan kegundahannya. Namun, senyuman itu surut ketika tiba-tiba ia mengingat sesuatu.

“Duhai Nabi, bukankah para malaikat pencatat segala amalan juga mencantumkan dosa besar saya dalam buku mereka. Bagaimana ini?” rintihnya putus asa.

“Allah berfirman, ‘Sesungguhnya perbuatan-per buatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk’ (QS Huud [11]:114).” Jawab Rasulullah membuat sang perempuan semakin tenang.

“Orang yang bertaubat itu seperti orang yang tidak lagi mempunyai dosa…,”lanjut Rasulullah.

Kalin ini sang perempuan mengangguk lega. Namun beberapa lama kemudian kepalanya menggeleng keras. Rasa gelisah itu kembali muncul.

“Lalu bagaimana dengan firman-Nya yang menyebutkan ‘Pada hari (ketika) lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS An-Nuur [24]:24). tutur sang perempuan kepada Nabi.

“Allah berfirman kepada bumi, juga segenap anggota tubuhnya: ‘Tahan dirimu, jangan tunjukkan kepada orang yang diterima taubatnya, keburukan selama-lamanya.” Rasulullah kembali menjawab dengan suara fasih. Untaiannya begitu merdu meyakinkan perempuan yang bertanya.

Suasana hening. Udara menghantarkan ketenangan. Perempuan itu semakin tertunduk. Ada banyak gumpalan perasaan yang tak bernama. Allah Mahapemurah.

“Benar, wahai Rasulullah. Itulah hak orang yang bertaubat. Mungkinkah seorang hamba mampu menanggungnya di hari kiamat? Bukankah engkau pernah bersabda, “Sesungguhnya orang yang berdosa pada hari kiamat akan menyebut dosa-dosanya, lalu malu kepada Allah. Keringat dosanya mengucur karena malu. Air keringat akan mengambang hingga menutup lututnya. Ada sebagian yang menutup pusarnya, dan ada pula yang hingga menutup kerongkongannya.”

Rasulullah menjawab dengan nada yang penuh wibawa, “Maka wahai orang yang beriman, kenanglah hari itu, jangan pernah melalaikannya. Bertaubatlah kepada Allah, mendekatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Allah Yang Mahatinggi adalah Tuhan Yang Mahapengampun dan Mahapenyayang.”

Seketika perempuan itu menangis. Air matanya meleleh, menandakan ia paham apa yang terucap dari bibir Rasul mulia.

Kisah diatas sedikit banyak mengajarkan banyak hal kepada kita. Bahwa sesungguhnya, dengan sebesar dan sebanyak apapun dosa dan kemaksiatan yang kita lakukan, ketika kita mau kembali lagi kepada Allah, maka Allah akan menerima taubat kita. Karena Dia lah Maha Penerima Taubat. Dia lah Yang Maha Pengasih kepada semua hamba-Nya.

Namun, seringkali kita bersikap naif. Naif terhadap apa yang kita perbuat sekarang. Betapa sering kita tidak merasa malu untuk kembali dan kembali berbuat maksiat. Kita, seakan-akan telah komitmen untuk konsisten dengan kebatilan, kemaksiatan, khilaf, dan dosa-dosa.

Semoga, Allah Yang Maha Agung senantiasa memberikan kepada kita rasa sebagian dari iman itu yang membuat kita selalu merasa malu, selalu dilihat Allah, hingga tak ada lagi maksiat dan kedzaliman yang dilakukan.

“Orang yang malu kepada Allah dengan sepenuh malu adalah orang yang menjaga kepalanya dari isinya, menjaga perutnya dari segala rizki yang tidak halal, selalu mengingat kematian, meninggalkan kemewahan dunia, dan menjadikan perbuatan akhirat sebagai hal yang lebih utama. Siapa yang melakukan semua itu maka ia telah malu kepada Allah dengan sepenuh malu” (Al Hadits).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s