Titik

Hidup kita bermula dari sebuah titik. Sebuah titik besar yang serupa dengan dentuman dahsyat hingga membentuk alam semesta milyaran tahun yang lalu. Pun akan berakhir dengan sebuah titik. Titik kecil dibelakang yang mengisyaratkan bahwa kematian telah merenggut seluruh kefanaan.

Aku kepadamu pun demikian. Bermula dari sebuah titik. Bermula dari kisah bulan yang serupa titik. Kisah bulan yang memang seharusnya menjadi prinsip hidup–sebenar prinsip hidup. Bahwa, tak perlu lah bersusah melihat sisi gelap dari bulan. Cukupkan diri kita dengan menikmati sisi indah bulan itu. Dan jika bulan diibaratkan seorang anak manusia, bukankah aplikasi nya tak semudah itu? Tak perlu melihat keburukan anak manusia itu, lihatlah kebaikannya, ingat-ingat lah kebaikannya. Bukankah tak semudah itu? Karena anak cucu adam memiliki memori dalam otaknya yang akan mengingat seluruh kejadian yang terjadi dalam hidupnya– yang menyenangkan maupun yang menyakitkan. Dan sayangnya, kejadian menyakitkan akan jauh lebih melekat di dalamnya. Tapi saya yakin, selalu ada ‘manusia langit’ yang mampu hanya melihat kebaikan manusia saja, tanpa memperhatikan keburukannya. Oke, gue bicara apa? fokus fit -___-

Aku denganmu pun demikian. Akan berakhir dengan sebuah titik. Titik yang mengisyaratkan bahwa pernikahan adalah pembangunan peradaban yang tak bisa dilakukan jika kita tak bersama, atau yang mengisyaratkan bahwa berhenti saling mencintai adalah yang terbaik. Jika kamu memilih yang kedua, maka itu berarti, kita akan berhenti untuk saling menyakiti– jika kamu merasa tersakiti. Namun, jika kamu memilih yang pertama, maka, berpikirlah ribuan kali untuk hidup bersama hanya dengan seorang perempuan apa adanya seperti aku. Berpikirlah ribuan kali untuk bisa belajar menghargai arti kebersamaan, arti komitmen, arti komunikasi.. Berpikirlah ribuan kali untuk benar-benar menajdi mawar merah yang tak pernah layu.

Lalu aku?

Aku akan dengan berbahagia menikmati apapun pilihanmu nantinya. Karena apapun pilihanmu itu, keduanya akan membawa kebaikan. Bukan hanya untuk kita, namun juga bagi semesta. Dan pada akhirnya, hubungan kita akan menemukan titik (juga). Sudah siapkah? :’)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s