Para pelari yang mengikuti kejuaraan lari di belahan dunia manapun, akan tetap terus berlari hingga mencapai tujuan akhir. Mereka tak berhenti meski lelah. Meski kaki mereka terasa butuh istirahat, meski nafas tersengal, meski keringat mengucur deras, mereka tetap tak berhenti dan terus berlari. Berpayah-payah mencapai akhir.
Sama seperti hidup. Tetap harus terus berlari menembus batas-batas yang tak berbatas, menggapai tujuan, dan baru beristirahat setelah mencapai garis akhir. Dan, kau tau dimana tempat istirahat itu? Shadaqta. Surga, tempat peristirahatan terakhir, tujuan dari segala tujuan πŸ™‚

View on Path

Manusia masa kini sudah terlalu lihai berandai. Tentang hari lalu yang terlanjur terlewati sia-sia, tentang hari ini yang belum sempurna, dan tentang hari esok yang belum pasti adanya. Manusia, memang makhluk yang paling sering berandai. Lebih kejamnya lagi, mereka yang bernama manusia itu, terlampau sering berandai tentang hal-hal yang semestinya tidak di-andaikan. Terlalu banyak hal krusial di depan sana yang jauh lebih penting dipikirkan, ketimbang masalah menye-menye yang alay bin ga jelas. Hei, surga masih jauh ya? Mungkin. Tapi kematian mu sudah menunggu di depan pintu. Bersiap siagalah wahai manusia πŸ™‚ udah ga mau kan tercebur beribu kali lagi? Yuk ah beres beres. Diem diem aja ya beres beresnya :’)

View on Path

pilihan, bukan kesempatan

Hanya ada dua alasan yang membuat seseorang sulit memejamkan mata. Pertama, karena terlalu jatuh cinta, atau yang kedua, karena terlalu patah hati. Dan malam ini, aku masih saja tak bisa dengan leluasa memejamkan mata, masih saja tak bisa menikmati tidur lelap dibawah sinar bintang-gemintang yang terpancar indah dari angkasa raya. Bukan karena alasan yang pertama, juga bukan karena yang kedua. Namun lebih tepatnya, aku sedangβ€”tak mengerti bagaimana menjelaskannya, apakah aku sedang terlalu jatuh cinta, atau terlalu patah hati; yang jelas, alasanku tak bisa terlelap adalah karena satu orang yang sama. Continue reading pilihan, bukan kesempatan

Perpisahan

Pertemuan kita ibarat aliran sungai; dimulai dari hulu dan selalu berakhir di hilir. Entah pada akhirnya akan membentuk koloni lagi atau justru berpisah terpencar menjadi bagian mata air. Pertemuan kita juga bisa diibaratkan seperti air hujan. Kita tak pernah tau pada menit keberapa air-air yang ada dimuka bumi menguap kemudian membentuk gumpalan awan di angkasa dan akhirnya turun menjadi rintik hujan. Kita tak pernah tau persis detil tiap awal terjadinya hujan; yang kita tau hanyalah saat ia mulai turun, membasahi ranting pohon, membuat bebauan hujan yang sangat khas ketika bercampur tanah, bahkan hingga membentuk pelangi di langit luas. Pertemuan kita bisa jadi seperti itu. Terjadi secara tiba-tiba – meski kita sama sama tau bahwa tidak ada sesuatu yang tiba-tiba. Pun akan berakhir secara tiba-tiba. Hujan juga seperti itu. Kadang kita tak bisa memprediksi kapan ia berhenti, kapan ia hanya mulai meneteskan satu persatu rintiknya. Sama seperti pertemuan kita. Continue reading Perpisahan