pilihan, bukan kesempatan

Hanya ada dua alasan yang membuat seseorang sulit memejamkan mata. Pertama, karena terlalu jatuh cinta, atau yang kedua, karena terlalu patah hati. Dan malam ini, aku masih saja tak bisa dengan leluasa memejamkan mata, masih saja tak bisa menikmati tidur lelap dibawah sinar bintang-gemintang yang terpancar indah dari angkasa raya. Bukan karena alasan yang pertama, juga bukan karena yang kedua. Namun lebih tepatnya, aku sedang—tak mengerti bagaimana menjelaskannya, apakah aku sedang terlalu jatuh cinta, atau terlalu patah hati; yang jelas, alasanku tak bisa terlelap adalah karena satu orang yang sama.

Cinta selalu begitu. Memberikan hubungan sebab-akibat di dalamnya. Sebab kau cinta, maka kau jatuh cinta. Dan sebab kau cinta pula, kau patah hati. Jatuh cinta dan patah hati adalah hal sepaket. Mau tak mau, suka tak suka, ketika kau jatuh cinta, kau pula harus siap merasakan patahnya hati. Aku ingatkan, ia hanya patah. Bukannya hilang. Jadi, ketika kau merasakan patah hati, kau tak perlu khawatir. Karena ia masih bisa kau satukan lagi, dengan kembali jatuh cinta berkali-kali; dengan ia yang sama, atau berbeda. Pertanyaannya, sanggupkah kau jatuh cinta berkali-kali kepada selain-nya, jika tujuanmu adalah ia yang—sayangnya, membuatmu patah berulang kali?

Aku katakan, bahwa hidup adalah tentang pilihan. Bukan kesempatan. Karena sungguh, masa depanmu ditentukan dari pilihan mana yang kau ambil, bukan kesempatan mana yang datang. Ribuan kesempatan yang datang tetap tak akan pernah merubah masa depanmu, ketika kau saja bahkan tak sanggup untuk memilih kesempatan mana yang pantas kau pilih dan jalankan. Dan kau tau, jatuh cinta serta patah hati pun adalah kesempatan. Kau tinggal memilih; jatuh cinta, atau patah hati. Hanya ada dua pilihan. Keduanya sama-sama membuat tak bisa tidur. Keduanya sama-sama membuat isak tangis. Keduanya sama-sama membuat rasa yang membuncah dalam dada; yang satu membahagiakan, yang lain menyedihkan. Namun yang pasti, keduanya adalah tentang pilihan. Kau hanya tinggal memilih.

Sama seperti kita saat ini. Kau hanya tinggal memilih. Mana yang lebih membuatmu bahagia? Melihat senja bersamaku, menikmati alunan tilawah bersamaku, mengulang hafalan bersamaku, mendiskusikan apa saja bersamaku, menyelediki teori sisi gelap bulan bersamaku, membaca buku bersamaku, menceritakan apapun bersamaku, menikmati tiap rintik hujan bersamaku, menatap sinar bulan dan bintang-gemintang bersamaku, tertawa dan menangis bersamaku, atau, berlepas diri dariku? Sungguh, kau hanya tinggal memilih.

Sama seperti sinar matahari, yang ternyata juga memilih dari jutaan kesempatan yang datang padanya. Ada yang memilih menyinari lapangan luas, ada yang memilih menyinari kebun-kebun jagung, ada yang memilih menyinari bayi-bayi yang baru lahir yang sengaja di sinari matahari pagi, ada yang memilih menyinari sekolah-sekolah, ada yang memilih menyinari lubang semut, ada yang memilih menyinari celah-celah kaca, dan bahkan ada pula yang memilih menyimpan sinarnya, untuk ia bagikan kepada bintang malam harinya.

Sama seperti aku senja tadi. Kau tau? Aku begitu bingung ketika dihadapkan oleh banyak sekali kesempatan untuk memilih. Memilih satu barang yang ingin aku beli, dengan jenis yang sama, hanya bentuk, corak, warna, dan tentu harganya yang berbeda. Dari puluhan, aku reduksi menjadi satuan, hingga terpilih dua bentuk, corak, warna yang berbeda, dengan harga yang sama. Tentu saja aku harus memilih. Karena dengan membeli keduanya, aku akan merasa bahwa diriku serakah. Karena dengan membeli keduanya, aku yakin, akan ada salah satu yang nantinya lebih tak ku perhatikan dari yang lainnya. Karena dengan membeli keduanya—ah, bukankah kau sudah mengerti bahwa itu artinya aku melakukan kedzaliman pada diriku sendiri?

Karena itulah aku memilih senja tadi. Aku bersikap untuk memilih salah satu dari dua yang sama sama aku senangi, yang sama sama akan menjadi milikk, setelah aku lunasi pembayarannya. Tentu saja aku memilih dengan pertimbangan hati. Tak ada yang dipaksakan, sekalipun banyak ku terima masukan sana sini, banyak godaan pilihan sana sini, namun aku tak bergeming. Aku hanya akan memilih satu. Dan itu yang aku pilih. Dan lagi, pilihan itu jatuh bukan karena paksaan, namun alami, karena rasa nyaman yang aku miliki.

Sama seperti kita. Aku hanya akan memilihmu, supaya sempurna menjadi kita. Lalu aku, kembali akan mengajukan pertanyaan serupa, bisakah kau dengan tegas menentukan pilihanmu, wahai insan yang begitu menawan senyumnya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s