12.27

Aku duduk sendiri. Menikmati indahnya bunga bermekaran, ranting pohon yang semakin bercabang, dedaunan yang rindang, cahaya matahari yang menelusup antara dahan-dahan pepohonan, kupu-kupu yang sibuk beterbangan, dan kali ini aku sendiri. Aku memilih untuk menikmatinya sendiri. Dalam bangunan tua ini, dengan begitu banyaknya kenangan yang tercoret di sana-sini, kali ini aku memilih menikmatinya sendiri. Sendiri, sepi, khusyuk mendengar burung-burung gereja berkicau, dalam keheningan. Semua terasa lebih lengang, dan tenang. Jauh lebih lengang dibanding hati yang masih saja sibuk berdebat tentang suatu hal yang entah apa namanya.

Diantara riuh rendah kicau burung, sepoi angin yang datang dan pergi, langkah kaki satu dua manusia, aku tertegun begitu lama. Menyaksikan hal-hal menarik yang justru hadir ketika aku sibuk sendiri. Sibuk dengan hatiku sendiri — lebih tepatnya. Ada begitu banyak hal di dunia ini yang bisa saja kita perdebatkan.

Siang ini, cahaya matahari begitu terang, begitu lepas menyinari bumi. Menerangi rumah-rumah berjendela, mengeringkan baju-baju, menelusup masuk ke dahan-dahan, rumah-rumah semut, semuanya. Tapi diantara sekian banyak hal yang harus ia sinari, dapatkah ia sinari semua itu dalam satu waktu? Tentu tidak. Karenanya, matahari, Ia buat muncul dari timur, untuk menerangi hal-hal yang berada di sebelah timurnya, kemudian terus berjalan ke tengah, atas, dan hingga ke barat. Dan sampai pada akhirnya, ter-sinari lah semua hal di muka bumi, meski tak selaras waktunya. Apakah mereka pernah merasa ter-curangi? Merasa matahari tak adil? Tentu tidak. Ia tak pernah membenci matahari yang sudah begitu derma menyinarinya sepanjang waktu.

Dedaunan yang tak mampu lagi menahan dirinya agar tetap berada di ranting pohon, akan jatuh. Jatuh bertemu tanah, dan akan menyatu kembali dengan tanah. Dengan jatuhnya ia, apakah ia merasa ranting begitu jahat karena tak mau menahan dirinya? Apakah ia merasa angin begitu jahat hingga meniup dan menjatuhkan dirinya? Tentu tidak. Sekalipun tidak. Ia bahkan tak pernah membenci angin atas jatuhnya.

Hidup kita pun seharusnya demikian. Tak pernah lekas menyalahkan orang lain atas buruknya diri, kotornya hati, kejamnya lisan, kasarnya tangan kaki. Bijaknya, kita kembali mengingat-ingat kesalahan yang diperbuat, menyesalinya, tak lagi mengulangi, dan berbuat baik terus-menerus sampai lelah ditukar Jannah.

Semoga kelak, kita bisa kembali berdiskusi. Mendiskusikan apa saja, di atas dipan-dipan dengan sungai yang mengalir dibawahnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s