(Bukan) Pahlawan Kamera

Bukan sekali dua kali rakyat Indonesia mengibarkan bendera merah putih satu tiang penuh ketika datangnya hari ini. Hari dimana puluhan tahun silam, manusia-manusia yang menomorduakan dirinya berjuang dengan segenap jiwa raga demi satu tujuan: kemerdekaan. Tan Malaka sempat berkisah sedikit tentang kemerdekaan, bahwa, “barang siapa sungguh menghendaki kemerdekaan untuk umum, segenap waktu ia harus ikhlas dan sedia untuk kehilangan kemerdekaan dirinya sendiri”.

10 November. Hari itu kemudian menjadi hari bersejarah bagi bangsa Indonesia. Manusia-manusia yang menomorduakan dirinya sendiri itu pantang menyerah melawan koloni Inggris pada masanya. Meski hanya dengan sebilah bambu runcing, melawan barisan penjajah bukanlah hal yang harus ditakuti. Tak ada yang lebih menakutkan selain tak adanya niatan untuk berubah menjadi kaum yang merdeka. Merdeka dari segala bentuk penjajahan. Manusia-manusia yang berperang untuk mempertahankan kemerdekaan negara dan bangsanya, melawan segala bentuk penjajahan baik dalam dirinya maupun sekitarnya, kemudian disebut sebagai pahlawan. Karena itulah tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Seremonial Hari Pahlawan setiap tahunnya selalu dijalani. Upacara bendera yang megah, dihadiri pejabat negara, dan kemudian berakhir dengan biasa saja tanpa adanya nilai yang menggugah. Kemerdekaan Indonesia memang tak pernah terrenggut kembali. Kemerdekaan masayarakatnya lah yang masih dipertanyakan. Negara boleh merdeka, tapi sistem membuat masayarakat Indonesia terbelenggu sedemikian rupa.

Masyarakat miskin bertambah miskin. Masyarakat kaya bertambah tak tau malu. Manusia-manusia berjas dan berdasi berlomba-lomba duduk di kursi Parlemen demi sebuah kenyamanan, tunjangan hidup, plesir ke luar negeri, dan melupakan tugas utama duduknya mereka di sana: mensejahterakan rakyat. Betapa banyak masyarakat Indonesia yang tak mampu membiayai kehidupan primernya sehari-hari. Pangan seadanya, papan tak layak huni, sandang itu itu saja. Orang-orang miskin tak mampu sekolah, petani dirampas haknya, buruh digaji rendah, juga tikus berdasi yang entah sudah menghabiskan berapa banyak uang negara.

Pemerintah masa kini, seperti yang sudah sering diberitakan, diharapkan membawa suatu perubahan. Jokowi– Presiden Indonesia terpilih, menggunakan gaya kepemimpinannya sendiri, blusukan. Blusukan kemudian menjadi trend masa kini bagi Indonesia. Walikota Bandung misalnya, Ridwan Kamil, juga mengadopsi gaya blusukan sang Presiden. Bima Arya selaku Walikota Bogor juga menerapkan sistem tersebut. Salah satu cara untuk mengerti kondisi rakyat sesungguhnya memang dengan blusukan. Kepemimpinan blusukan Jokowi merupakan penerapan dari teori Pareto yang sangat terkenal di dunia bisnis. Jauh sebelumnya, Pareto mengungkapkan bahwa segala sesuatu baik di dunia birokrat, bisnis, akademik maupun di masyarakat dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu: big few dan small many yang kemudia popular dengan istilah 80-20.

Jokowi yang telah berkecimpung dalam dunia bisnis selama 27 tahun menterjemahkan teori Pareto dengan bahasa yang sederhana “blusukan”. Secara cerdas Jokowi mampu menterjemahkan fenomena Pareto dengan mengatakan bahwa urusan-urusan administrasi pemimpin hanya sebagian kecil yang menuntut kehadirannya di kantor. Masalah utama justru ada di lapangan. Masalah riil (nyata) justru ada di lapangan yang harus segera dicarikan solusinya. Oleh karenanya, waktu Jokowi sering dihabiskan di lapangan untuk urusan-urusan riil mulai dari detail realisasi pembangunan (pengawasan), sampai pada berbagai urun rembug, mendengarkan masyarakat di gang-gang sempit, di jalanan, di pasar, di bantaran sungai, di pusat-pusat bisnis, di sekolah, di puskesmas dan di tempat-tempat lain.

Kepemimpinan blusukan ini diharapkan tidak hanya menjadi salah satu bentuk pencitraan saja. Namun benar-benar karena ingin mengerti kondisi rakyat sesungguhnya, mencarikan solusinya, mengahasilkan kebijakan semestinya, dan kemudian menjadi paham betul kebijakan apa yang memang benar-benar dibutuhkan rakyat. Kebijakan Pemerintah yang nantinya diambil berbanding lurus dengan kondisi masyarakat sesungguhnya, bukan sebaliknya.

Indonesia telah lama kehilangan pahlawannya. Tahun-tahun yang dilalui jauh setelah kemerdekaan justru menghasilkan pecinta kekuasaan yang haus akan tahta dan melupakan tanah airnya. Masyarakat tak membutuhkan Pahlawan ‘Citra’ yang hanya berpura-pura menjadi pahlawan ketika ada sorot kamera. Masyarakat butuh Pahlawan yang mengerti betul hakikat perjuangan sesungguhnya. Selamat Hari Pahlawan, Indonesia-ku!

Advertisements

3 thoughts on “(Bukan) Pahlawan Kamera”

  1. Pahlawan itu kata Sapardi, “Telah berjanji kepada sejarah untuk pantang menerah“. Pahlawan itu kata Chairil Anwar, “berselempang semangat yang tak bisa mati“.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s