pulang

bukan sekali dua kali aku sempat sebal, gontai membukakan pintu, ketika kamu pulang cukup larut malam dari jam pulang seharusnya. bukan aku tak mengerti, bukan. aku terkadang ingin sekali saja menghapuskan kata ‘lembur’ di kamusmu. membayangkan kamu pulang sore dan kita bisa bercengkrama lebih lama.

tapi bagaimana juga cara menghapusnya. aku tau, kadang, kamu memilih lembur malam ini supaya besok bisa pulang cepat; tapi nyaranya besok malam akan ada lemburan-lemburan lain. kadang juga, kamu memilih lembur malam ini karna kamu tau, besok malam kamu ada janji jalan-jalan bersamaku; tapi tetap saja, malam itu kamu harus lembur dulu baru bisa pulang untuk jalan-jalan.

sudah teramat sering kamu menjelaskan kondisimu, posisimu, pekerjaanmu, yang memang cukup menyita waktu; bahkan saat makan malam, saat sebelum subuh, selalu saja ada obrolan-obrolan pekerjaan dengan atasanmu yang bukan sekali dua kali membuatku cemburu. sudah teramat sering kamu mencoba menjelaskannya, perlahan, sambil sesekali menunjukkan foto-foto berkas yang sama sekali tak ingin ku lihat.

kamu tau, hampir setiap hari, saat jam pulang kantor, aku selalu cepat-cepat mengirimkan pesan singkat untuk titip ini itu; paling sering menitip cemilan-cemilan malam. padahal, kamu tau, aku sebetulnya tidak butuh-butuh amat dengan titipan itu. aku hanya berharap dengan adanya titipan itu, kamu bergegas pulang.

tapi ternyata tidak. kamu akan tetap membawakan titipan itu, nanti setelah lemburanmu selesai. apa aku marah? tidak juga. lambat laun aku akan mengerti dengan sendirinya, tanpa perlu penjelasan-penjelasan lagi darimu. aku hanya perlu mengubah kewajibanku menunggu yang bagiku menyebalkan, menjadi suatu yang membahagiakan; menyiapkan air minum-mu, menyiapkan baju ganti, menyiapkan piring-sendok, dan menyiapkan-menyiapkan lainnya, dengan penuh rasa senang menantimu pulang.

ah. bahkan satu jam setelah kepergianmu berangkat kerja, aku sudah menantimu pulang.

pulanglah.

Advertisements

ini tentang kita, terlebih aku

ini tentang kita. terlebih tentang aku, yang selalu saja berlebihan dalam hal rindu. hampir setiap pagi, setelah mencium punggung tanganmu, memintamu mendaratkan kecupan manis di dahiku, kemudian pergi menunaikan tugas sebagai suami, aku lantas menangis dalam-dalam sambil memanggil-manggil namamu seolah kamu akan pergi bertugas di bumi Palestina. hampir setiap hari aku menangis di pagi hari setelah melepasmu bekerja. hampir setiap hari aku menangis merindukanmu dari dalam rumah kecil kita. hampir setiap hari aku menangis sembari mengelus-elus perutku dan bilang kalau ‘ayah lagi kerja buat dedek. dedek jangan nangis ya’, padahal bunda nya yang lagi nangis-nangis.

dan setiap kamu pulang, dengan tampangmu yang kadang sedikit kusam kelelahan karna banyaknya kerjaan yang semakin bertumpuk, aku tak akan pernah menanyai mengapa kamu begini dan begitu. aku hanya akan mencium punggung tanganmu, memintamu mendaratkan kecupan di pipi kanan kiri dan dahiku, lantas memelukmu erat–layaknya pasangan LDR berbulan-bulan yang hanya bisa berjumpa lewat skype–lalu aku kembali meneteskan air mata. entah dikamar mandi ketika ambil air wudhu, atau ketika menyiapkan makanmu, atau ketika memelukmu kembali karna masih rindu.

ini bukan karna kami pasangan yang baru menikah, bukan juga karna bawaan dedek bayi, tapi karna terkadang aku merasa selalu meminta perhatian lebih, kesabaran lebih, pengertian lebih, untuk mengerti dan memahami sikap-sikapku yang kadang masih jauh dari kata dewasa. tapi kamu selalu mengalah, bersabar, dan tak pernah marah sekalipun seharusnya kamu marah atas sikapku.

lalu aku. aku hanya bisa memandangimu malam-malam saat kamu tertidur pulas, mengusap rambutmu, mencium keningmu, memelukmu erat saat kamu sempurna terlelap. lalu diam-diam aku kembali menangis. memandangi wajah laki-laki yang sebelumnya bukan siapa-siapa, tapi kini harus menanggung dosa-dosaku ketika aku lalai; bahkan hanya sebatas malas pakai kaus kaki ke warung depan. laki-laki yang kini bekerja, berlelah-lelah, untuk membahagiakanku dan juga calon buah hati kami. laki-laki yang sabarnya tiada batas, yang selalu berusaha mengiyakan apa yang menjadi keinginanku. laki-laki yang faham betul bagaimana cara menjaga, melindungi, menyayangi, dan memanjakanku untuk membuatku selalu nyaman berada di dekatmu.

lalu kamu. terimakasih untuk kesabaran yang berlipat ganda saat bersamaku. terimakasih untuk selalu memahami dan mengerti aku yang masih begini. terimakasih untuk cinta dan kasih sayang yang begitu besarnya.

satu hal yang perlu kamu tau. aku mencintaimu, lebih besar dari yang kamu tau.

selamat malam sayang. ayo pulang. aku rindu.