ini tentang kita, terlebih aku

ini tentang kita. terlebih tentang aku, yang selalu saja berlebihan dalam hal rindu. hampir setiap pagi, setelah mencium punggung tanganmu, memintamu mendaratkan kecupan manis di dahiku, kemudian pergi menunaikan tugas sebagai suami, aku lantas menangis dalam-dalam sambil memanggil-manggil namamu seolah kamu akan pergi bertugas di bumi Palestina. hampir setiap hari aku menangis di pagi hari setelah melepasmu bekerja. hampir setiap hari aku menangis merindukanmu dari dalam rumah kecil kita. hampir setiap hari aku menangis sembari mengelus-elus perutku dan bilang kalau ‘ayah lagi kerja buat dedek. dedek jangan nangis ya’, padahal bunda nya yang lagi nangis-nangis.

dan setiap kamu pulang, dengan tampangmu yang kadang sedikit kusam kelelahan karna banyaknya kerjaan yang semakin bertumpuk, aku tak akan pernah menanyai mengapa kamu begini dan begitu. aku hanya akan mencium punggung tanganmu, memintamu mendaratkan kecupan di pipi kanan kiri dan dahiku, lantas memelukmu erat–layaknya pasangan LDR berbulan-bulan yang hanya bisa berjumpa lewat skype–lalu aku kembali meneteskan air mata. entah dikamar mandi ketika ambil air wudhu, atau ketika menyiapkan makanmu, atau ketika memelukmu kembali karna masih rindu.

ini bukan karna kami pasangan yang baru menikah, bukan juga karna bawaan dedek bayi, tapi karna terkadang aku merasa selalu meminta perhatian lebih, kesabaran lebih, pengertian lebih, untuk mengerti dan memahami sikap-sikapku yang kadang masih jauh dari kata dewasa. tapi kamu selalu mengalah, bersabar, dan tak pernah marah sekalipun seharusnya kamu marah atas sikapku.

lalu aku. aku hanya bisa memandangimu malam-malam saat kamu tertidur pulas, mengusap rambutmu, mencium keningmu, memelukmu erat saat kamu sempurna terlelap. lalu diam-diam aku kembali menangis. memandangi wajah laki-laki yang sebelumnya bukan siapa-siapa, tapi kini harus menanggung dosa-dosaku ketika aku lalai; bahkan hanya sebatas malas pakai kaus kaki ke warung depan. laki-laki yang kini bekerja, berlelah-lelah, untuk membahagiakanku dan juga calon buah hati kami. laki-laki yang sabarnya tiada batas, yang selalu berusaha mengiyakan apa yang menjadi keinginanku. laki-laki yang faham betul bagaimana cara menjaga, melindungi, menyayangi, dan memanjakanku untuk membuatku selalu nyaman berada di dekatmu.

lalu kamu. terimakasih untuk kesabaran yang berlipat ganda saat bersamaku. terimakasih untuk selalu memahami dan mengerti aku yang masih begini. terimakasih untuk cinta dan kasih sayang yang begitu besarnya.

satu hal yang perlu kamu tau. aku mencintaimu, lebih besar dari yang kamu tau.

selamat malam sayang. ayo pulang. aku rindu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s